”Pendidikan adalah tindakan pendidik itu sendiri.” -- Prof Driyarkara, SJ
JAMAK dilakukan para guru adalah menyiapkan materi pembelajaran. Namun, menyiapkan diri untuk berdiri di depan kelas adalah upaya yang tiada henti sepanjang hayat. Kalimat Driyarkara di awal paparan ini menunjuk bahwa pendidikan memuat juga keteladanan guru, dalam tingkah laku, berbicara, dan berpikir. Kegundahan mutakhir penulis sebagai guru membuncah ketika menelisik akun media sosial milik para guru.
Tidak sedikit guru yang dengan sengaja membagikan tautan berita, gambar, atau paparan yang isinya justru mencerminkan cara pikir yang kurang bijak. Membagikan informasi yang tidak utuh dan tidak berimbang adalah cermin pola pikir yang tidak terbuka. Demi pengaruh yang dihadirkan kepada murid, baik kiranya para guru melakukan otokritik dan menyadari kembali bahwa penghargaan akan keberagaman mesti diajarkan.
Keberagaman di Kelas
Sejak hari pertama hadir di kelas, guru berhadapan dengan keberagaman. Murid hadir berasal dari berbagai latar belakang keluarga, daya paham akan materi pelajaran, bahkan tingkahpolah yang tidak seragam di kelas. Sekolah yang mengumpulkan murid-murid pintar pun tetap memunculkan berbagai pembeda latar belakang ekonomi orang tuanya, keberagaman agama, dan kebiasaan belajar di kelas. Pun para murid di kelas memiliki beragam kecerdasan bawaan.
Persepsi terhadap keberagaman murid akan menentukan perlakuan guru. Perlakuan ini konkret ketika berinteraksi dalam pelajaran di kelas. Neila Ramdhani (2013) menyebut tiga hal yang mempengaruhi persepsi guru terhadap murid, di antaranya kepribadian guru, suasana hati guru sesaat, dan masa lalu guru. Guru yang rasis tentu akan diskriminatif terhadap muridnya. Mereka yang biasa menyebar tautan di media sosial mengenai berita yang tidak berimbang, bisa jadi sebagai guru juga tidak utuh sebagai pribadi. Para murid pun merasakan perlakuan guru yang tidak menyukainya.
Masa lalu guru pun mempengaruhi persepsi terhadap muridnya. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kekerasanpun, jika tidak berkesempatan mengolah diri, tentu akan menghadirkan kekerasan di ruang-ruang kelas. Pengalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu akan dilampiaskan kepada murid. Guru akan memperlakukan murid dengan cara yang sama, bahkan murid akan menjadi sasaran kejengkelan. Rasa rendah diri karena latar belakang guru di masa lalu juga mempengaruhi cara memperlakukan murid, murid sebagai ancaman atau kawan.
Di sisi lain, keberagaman penampilan murid dan status sosial ekonomipun mempengaruhi persepsi guru. Berdasarkan penelitian (2013), guru yang menghadapi murid berpenampilan bersih dan cantik juga mempersepsi baik, sehingga hasil belajar murid pun baik. Sebaliknya persepsi buruk terhadap penampilan kurang rapi dan kotor akan berlanjut pada perlakuan yang kurang baik juga.
Keberagaman Zaman Kini
Fasilitas teknologi yang dinikmati anak-anak kita di zaman kini akan memungkinkan mereka memperoleh informasi lebih lengkap daripada gurunya. Para murid akan dihadapkan pada berbagai pilihan informasi yang harus diuji dulu kebenarannya. Membantu murid untuk terusmenerus berpikir terbuka dan menguji informasi dari berbagai sumber adalah upaya menumbuhkan penghargaan pada keberagaman.
Situasi sebaliknya dapat terjadi, para murid yang kritis karena informasinya lebih lengkap justru dimatikan oleh guru yang masih menganggap dirinya sebagai satu-satunya ‘kebenaran’. Murid-murid yang tertindas oleh pola pikir guru ‘pokoknya’ akan mendapatkan contoh buruk dari guru yang antikeberagaman. Jika demikian, tidak berlebihan Driyarkara menyebut bahwa pendidikan itu tindakan pendidik itu sendiri. Pola pikir antikeberagaman pada orangorang muda dan anak-anak kita, jangan-jangan hasil pendidikan yang mencontoh guru-gurunya yang tidak kunjung mau membuka pikiran dengan situasi zaman yang pesat informasi?
Dalam konteks negeri ini yang rindu cinta kebinekaan dan sedang gandrung menghargai keberagaman, kiranya gurulah yang dapat berperan penting untuk mewujudkannya. Penghargaan akan kebinekaan di masyarakat konkret harus dimulai dari kecintaan guru akan keberagaman di kelas, kepada murid-murid dalam keseharian. Memahami bahwa murid berbeda satu dengan lainnya, dalam hal apa pun, itulah obor penuntun guru ketika masuk kelas. Bersyukur dan menerima keberagaman murid akan menumbuhkan perasaan positif. Untuk rekanrekan guru, selamat mendidik dengan penuh cinta.
(St Kartono. Guru SMA Kolese De Britto Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 25 November 2017)
JAMAK dilakukan para guru adalah menyiapkan materi pembelajaran. Namun, menyiapkan diri untuk berdiri di depan kelas adalah upaya yang tiada henti sepanjang hayat. Kalimat Driyarkara di awal paparan ini menunjuk bahwa pendidikan memuat juga keteladanan guru, dalam tingkah laku, berbicara, dan berpikir. Kegundahan mutakhir penulis sebagai guru membuncah ketika menelisik akun media sosial milik para guru.
Tidak sedikit guru yang dengan sengaja membagikan tautan berita, gambar, atau paparan yang isinya justru mencerminkan cara pikir yang kurang bijak. Membagikan informasi yang tidak utuh dan tidak berimbang adalah cermin pola pikir yang tidak terbuka. Demi pengaruh yang dihadirkan kepada murid, baik kiranya para guru melakukan otokritik dan menyadari kembali bahwa penghargaan akan keberagaman mesti diajarkan.
Keberagaman di Kelas
Sejak hari pertama hadir di kelas, guru berhadapan dengan keberagaman. Murid hadir berasal dari berbagai latar belakang keluarga, daya paham akan materi pelajaran, bahkan tingkahpolah yang tidak seragam di kelas. Sekolah yang mengumpulkan murid-murid pintar pun tetap memunculkan berbagai pembeda latar belakang ekonomi orang tuanya, keberagaman agama, dan kebiasaan belajar di kelas. Pun para murid di kelas memiliki beragam kecerdasan bawaan.
Persepsi terhadap keberagaman murid akan menentukan perlakuan guru. Perlakuan ini konkret ketika berinteraksi dalam pelajaran di kelas. Neila Ramdhani (2013) menyebut tiga hal yang mempengaruhi persepsi guru terhadap murid, di antaranya kepribadian guru, suasana hati guru sesaat, dan masa lalu guru. Guru yang rasis tentu akan diskriminatif terhadap muridnya. Mereka yang biasa menyebar tautan di media sosial mengenai berita yang tidak berimbang, bisa jadi sebagai guru juga tidak utuh sebagai pribadi. Para murid pun merasakan perlakuan guru yang tidak menyukainya.
Masa lalu guru pun mempengaruhi persepsi terhadap muridnya. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kekerasanpun, jika tidak berkesempatan mengolah diri, tentu akan menghadirkan kekerasan di ruang-ruang kelas. Pengalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu akan dilampiaskan kepada murid. Guru akan memperlakukan murid dengan cara yang sama, bahkan murid akan menjadi sasaran kejengkelan. Rasa rendah diri karena latar belakang guru di masa lalu juga mempengaruhi cara memperlakukan murid, murid sebagai ancaman atau kawan.
Di sisi lain, keberagaman penampilan murid dan status sosial ekonomipun mempengaruhi persepsi guru. Berdasarkan penelitian (2013), guru yang menghadapi murid berpenampilan bersih dan cantik juga mempersepsi baik, sehingga hasil belajar murid pun baik. Sebaliknya persepsi buruk terhadap penampilan kurang rapi dan kotor akan berlanjut pada perlakuan yang kurang baik juga.
Keberagaman Zaman Kini
Fasilitas teknologi yang dinikmati anak-anak kita di zaman kini akan memungkinkan mereka memperoleh informasi lebih lengkap daripada gurunya. Para murid akan dihadapkan pada berbagai pilihan informasi yang harus diuji dulu kebenarannya. Membantu murid untuk terusmenerus berpikir terbuka dan menguji informasi dari berbagai sumber adalah upaya menumbuhkan penghargaan pada keberagaman.
Situasi sebaliknya dapat terjadi, para murid yang kritis karena informasinya lebih lengkap justru dimatikan oleh guru yang masih menganggap dirinya sebagai satu-satunya ‘kebenaran’. Murid-murid yang tertindas oleh pola pikir guru ‘pokoknya’ akan mendapatkan contoh buruk dari guru yang antikeberagaman. Jika demikian, tidak berlebihan Driyarkara menyebut bahwa pendidikan itu tindakan pendidik itu sendiri. Pola pikir antikeberagaman pada orangorang muda dan anak-anak kita, jangan-jangan hasil pendidikan yang mencontoh guru-gurunya yang tidak kunjung mau membuka pikiran dengan situasi zaman yang pesat informasi?
Dalam konteks negeri ini yang rindu cinta kebinekaan dan sedang gandrung menghargai keberagaman, kiranya gurulah yang dapat berperan penting untuk mewujudkannya. Penghargaan akan kebinekaan di masyarakat konkret harus dimulai dari kecintaan guru akan keberagaman di kelas, kepada murid-murid dalam keseharian. Memahami bahwa murid berbeda satu dengan lainnya, dalam hal apa pun, itulah obor penuntun guru ketika masuk kelas. Bersyukur dan menerima keberagaman murid akan menumbuhkan perasaan positif. Untuk rekanrekan guru, selamat mendidik dengan penuh cinta.
(St Kartono. Guru SMA Kolese De Britto Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 25 November 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar