Siapa pun yang berhasil
menguasai AI (kecerdasan buatan) akan menguasai dunia.
Vladimir Putin
Kita sedang di ambang revolusi. Revolusi berskala dunia. Berbeda dengan
revolusi sosial, revolusi ini bersifat sosial teknologi.
"Konspirator-konspirator"-nya bukanlah para aktivis serikat buruh,
mahasiswa, atau para filsuf ekonomi. Para penggeraknya adalah
orang-orang imajinatif yang bertemu matematika dan algoritma.
Subversif-subversif zaman kini yang menggunakan matematika dan algoritma
untuk merumuskan imajinasinya.
Tak kali pertama ini terjadi ketika orang-orang imajinatif bertemu
matematika di masa lampau membuat kita tergopoh-gopoh selama beberapa
dekade untuk memecahkan prediksi-prediksinya. Namun, baru di abad ke 21
ini, mereka berskala masif dan agen-agen mereka tak hanya di kampung,
kampus, atau di pabrik tertentu yang terlokalisasi. Agen-agen
revolusinya ada di supercomputer, robot-robot cerdas (artificial
intelligence/AI),smartphone, laptop, bahkan sudah ada di jam-jam tangan!
Pelurunya bukan logam tajam bermesiu, melainkan data besar (big data),
mulai dari tingkat konsumsi pulsa, jumlah klik, denyut nadi, tekanan
darah, jenis makanan, olahraga favorit, musik favorit, sampai golongan
darah.
Selamat datang di Revolusi Industri ke- 4, di mana data yang ditampilkan
bisa diverifikasi faktanya. Bahwa kemudian manusia membangun cerita,
citra, dan mitos terhadapnya, ia masih saja harus berbasis fakta dan
data. Ini revolusi yang mengaburkan batas-batas ruang fisik, digital,
dan biologis. Revolusi yang mengantarkan kita untuk hidup bersama robot
cerdas, yang akan melayani atau mengambil alih 58 persen pekerjaan
fisik, dan menyisakan hal-hal yang kreatif saja untuk diselesaikan otak
dan otot manusia.
Berjejaring
Jejaring adalah wajah era digital. Ia sebenarnya wajah asli alam dan
masyarakat yang lama tersembunyi (baca: disembunyikan), hanya saja
sekarang algoritma teknologi informasi berhasil mengangkatnya ke
penampakan mata manusia. Ia membuat dunia seolah sebuah "desa" di mana
segala hal tidak lagi berada jauh terpisah. Teknologi telah membuat
hampir semua hal yang ada di dunia saat ini terhubung oleh jejaring
fisik dan digital yang masif, di mana informasi, barang, dan jasa
mengalir bebas dalam skala yang sulit kita bayangkan sebelumnya. Segala
hierarki sosial yang vertikal mengarah menjadi horizontal. Paling tidak
diagonal.
Di dalam jejaring itu, ekonomi digital tumbuh dan perlahan mendominasi.
Hanya dalam 20 tahun sejak kelahiran internet, potensi globalnya
diperkirakan 3 triliun dollar AS. Digital bukan lagi sekadar bagian dari
ekonomi, melainkan ia ekonomi itu sendiri. Jejaring merupakan wadah
alami untuk memunculkan paradigma ekonomi baru yang berlandaskan pada
semangat kolaborasi dan partisipasi (participatory market society)
selayaknya gotong royong rakyat desa. Pendekatan kolaboratif perlahan
menjadi konsep yang menyeruak dalam praktik ekonomi generasi milenial,
menggantikan semangat kompetisi yang dominan di era sebelumnya.
Mayoritas bisnis yang disruptif saat ini memfasilitasi munculnya
kolaborasi berbasis platform teknologi. Kolaborasi jadi prasyarat utama
agar perusahaan dapat berinovasi dan bersaing di pasar global yang terus
berubah. Wilayah yang bekerja sama menjadi prasyarat terbangunnya
struktur ekonomi yang kuat dan tahan krisis. Individu yang bekerja sama
menjadi prasyarat utama tercapainya kesuksesan bersama. Di depan warga
desa sering saya istilahkan sebagai desa bekerja, desa berjejaring, dan
desa berinovasi agarwaras bareng, pinter bareng, dan sugih bareng.
Di era digital kita merayakan kelahiran manusia sosial sebagai
alternatif dari manusia ekonomi. Berbeda dengan manusia ekonomi yang
egois, manusia sosial berupaya mengejar keinginannya sembari
mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil terhadap
lingkungan kolaborasi yang dihidupinya. Rute menuju kesuksesan manusia
sosial bukanlah menuju puncak piramida keunggulan satu individu terhadap
individu lain, melainkan menuju sentral jaringan kolaborasi
antarindividu dan sumber daya. Keunggulan individual tak lagi diukur
seberapa besar sumber daya yang dikuasai, tetapi sejauh mana akses
dimiliki mampu melingkupi keseluruhan jejaring. Titik keseimbangan bukan
pada puncak piramida statis, melainkan titik-titik dinamika jejaring
sosial yang terus bergerak.
Pergeseran paradigma ini akan memunculkan perbedaan yang sangat
fundamental secara makro. Paradigma manusia ekonomi yang menjadi fondasi
aktivitas ekonomi manusia selama ini telah berujung pada persoalan
eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan, polusi, dan kerusakan
lingkungan. Kita mengenalnya dalam istilah tragedy of the commons.
Tragedi kepanasan, terendam air, atau sesak napas yang akan menimpa
siapa saja, apa pun agama, ras, akun Twitter, atau grup
Whatsapp-nya. Persoalan itu sangat mungkin teratasi di era saat ini.
Konektivitas di era digital telah menciptakan lingkungan yang sangat
baik untuk munculnya partisipasi dan kerjasama dari bawah secara mandiri
(bottom up self regulation). Namun, ia tidak selalu dapat muncul dengan
sendirinya. Kita perlu secara sengaja menyiapkan kerangka kelembagaan
yang sesuai agar semangat kolaborasi dan partisipasi dapat memberikan
dampak sosial dan individu yang pantas. Inilah tindakan politik.
Skenario
Skenario masa depan di era digital tak selalu berakhir baik. Ia juga
dapat berupa mimpi buruk yang mengempas kita dalam perpecahan dan
ketertinggalan. Persoalan pertama adalah ketidakmerataan akses terhadap
teknologi informasi. Penetrasi internet di Indonesia saat ini masih di
kisaran 25 persen penduduk, mayoritas berada di Jawa dan Sumatera
(digital divide). Akses terhadap teknologi merupakan prasyarat mobilitas
sosial di era digital. Namun, saat ini masih dipengaruhi level
pendidikan, pendapatan, dan pertemanan seseorang. Pemerataan akses harus
disertai peningkatan literasi atas teknologi. Revolusi teknologi
mengharuskan kita sesegera mungkin melakukan revolusi pendidikan.
Pendidikan harus memberikan penekanan pada penguasaan "cara belajar"
daripada sekadar banyak tahu karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan
di era digital. Belajar "cara belajar" dalam rupa merumuskan pertanyaan
dengan tepat akan meningkatkan kemampuan adaptif manusia Indonesia pada
perubahan cepat masa depan.
Persoalan kedua, proses otomasi produksi oleh mesin dan robot akan
mengguncang pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi saat ini telah
memungkinkan produksi barang dan jasa berlangsung tanpa melibatkan
jumlah pekerja yang besar. Hal ini memberikan sinyal, revolusi industri
ke- 4 bisa berujung pada sekadar pengulangan realita ketimpangan
antarindividu dan antarwilayah yang tinggi. Kita jelas membutuhkan
kerangka konseptual dan institusional baru untuk menanggulanginya.
Lagi-lagi ia juga butuh tindakan politik.
Alternatif pertama konsep negara berbagi melalui pemenuhan kebutuhan
dasar universal (universal basic income/UBI) di mana negara menjamin
pendapatan minimum bagi setiap orang untuk melanjutkan kehidupannya
meski tanpa bekerja. UBI, selain sebagai jaring pengaman sosial, juga
akan memberikan keleluasaan bagi setiap orang menjelajahi daya cipta
estetika dan membentuk kemanusiaannya sembari membiarkan persoalan fisik
ditangani mesin dan robot. Saat robot cerdas mengangkut batu atau
melakukan operasi jantung, insinyur dan dokter membuat puisi dan naskah
drama. Negara harus menjamin mereka tetap makan tiga kali sehari untuk
membuat puisi lebih baik lagi.
Alternatif kedua adalah konsep perusahaan berbagi melalui adanya semacam
valuasi dan kompensasi keuangan kepada khalayak banyak atas informasi
pribadi yang mereka berikan secara "sukarela" di ruang-ruang digital.
Informasi "gratisan" tentang kolesterol, film favorit, atau detak
jantung adalah mata uang yang menjadi sumber keuntungan utama korporasi
teknologi saat ini. Persis inilah yang saya lihat di kantor pusat
perusahaan teknologi di Silicon Valley beberapa minggu lalu. Informasi
publik di ruang digital masuk dalam kategori aset terbuka (open asset),
selain konsep aset publik dan pribadi, yang perlu mendapat perlindungan
dari negara. Keuntungan dari aset itu harus dapat divaluasi untuk
kemudian dikembalikan dalam manfaat keuangan sepenuhnya kepada rakyat.
Sekali lagi, ini butuh tindakan politik dalam rupa undang-undang.
Menurut laporan tahunan AI Vibrancy Index 2017, agregat perkembangan AI
di kampus (publikasi ilmiah, konferensi, dan lain-lain) dan industri
(nilai investasi,start up, dan lain-lain) mengalami peningkatan yang
tajam, hampir 7 kali lebih besar dibandingkan awal 2000. AS, Rusia, dan
China adalah tiga negara terdepan dalam balapan teknologi penguasaan AI,
baik dalam kontribusi riset, investasi industri maupun adopsi
teknologi. Ini saja sudah memberikan gambaran sederhana peta negara yang
akan mendominasi dunia di masa depan. Indonesia tentu tidak boleh
melongo saja melihat yang seperti ini.
Tentu bagi Indonesia kutipan Putin di atas bukan dalam kerangka
mendominasi dunia. Penguasaan AI (di antaranya robot-robot cerdas)
adalah jalan untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" sebagaimana amanat
konstitusi kita. Namun, tak hanya itu. Kita juga punya pekerjaan rumah
besar untuk segera memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa karena model ekonomi berbagi yang sedang tren sejauh
ini masih belum menjalar masif ke bawah. Kita perlu mendorongnya
melalui UBI, universal bassic assets, dan pemanfaatan teknologi oleh
unit bisnis rakyat dalam rupa BUMDes, dan badan usaha milik rakyat. Cuma
dengan itu, semua orang Indonesia di desa dan kota siap menyongsong
Revolusi Industri ke-4 dengan wajah berseri-seri.
Budiman Sudjatmiko
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
TAJUK RENCANA: Membenahi Sistem Pendidikan Dasar (Kompas)
Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita. ...
-
Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita. ...
-
GENERASI zaman now adalah generasi baru yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia digital. Jika angkatan lama lebih akrab dengan media cet...
-
Siapa pun yang berhasil menguasai AI (kecerdasan buatan) akan menguasai dunia. Vladimir Putin Kita sedang di ambang revolusi. Revolusi bers...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar