Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera
dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita.
Seperti diungkap harian ini, Kamis (14/12), kemampuan membaca dan
menulis, menghitung, serta sains siswa di tingkat pendidikan dasar
sangat kurang.
Dari hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) tingkat sekolah
dasar yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekitar 77
persen siswa mempunyai kemampuan kurang dalam matematika. Adapun yang
memiliki kemampuan cukup dalam matematika hanya sekitar 20,5 persen.
Untuk kemampuan membaca, sekitar 46,8 persen siswa termasuk kategori
kurang dan 47,1 persen kategori cukup. Kemampuan siswa untuk sains,
sekitar 73,6 persen tergolong kurang dan hanya 25,3 persen tergolong
cukup.
Angka ini tentu saja tidak ideal untuk kemajuan bangsa ke depan.
Dibutuhkan sumber daya manusia bermutu tinggi agar Indonesia bisa
bersaing dengan negara lain pada masa mendatang.
Siswa SD yang saat ini berusia 7-12 tahun, saat Indonesia berusia 100
tahun pada 2045, akan berusia 35-40 tahun. Saat itu mereka akan berada
di posisi-posisi penting di berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Jika
kualitas mereka rendah, tentu akan berpengaruh terhadap daya saing
bangsa. Karena itu, evaluasi dan pembenahan terhadap sistem pendidikan
dasar layak dilakukan.
Evaluasi dan pembenahan ini antara lain untuk melihat kelemahan sistem
pendidikan dasar yang berjalan selama ini, sekaligus menyusun sistem
pendidikan dasar yang lebih sesuai dengan tantangan zaman. Pembenahan
harus serius karena pesertanya tidaklah sedikit.
Berdasarkan data Kemdikbud, jumlah siswa baru di jenjang SD pada tahun
2016/2017 tercatat 4,17 juta siswa. Mereka tersebar di 132.022 sekolah
dasar negeri (89,5 persen) dan 15.481 sekolah dasar swasta (10,5
persen).
Selain evaluasi dan pembenahan sistem pendidikan dasar, tak boleh
dilupakan pula peningkatan kualitas guru yang menjadi ujung tombak
peningkatan kualitas pendidikan. Kondisi guru dari segi pendidikan masih
belum sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen yang mengharuskan guru minimal berpendidikan sarjana.
Hingga saat ini, dari 1.586.127 guru sekolah dasar, baru 1.335.674 guru
SD yang berpendidikan sarjana. Masih ada 250.453 guru yang berpendidikan
SMA dan SMP. Sulit rasanya meningkatkan kualitas pendidikan tanpa
meningkatkan kualitas guru.
Senin, 18 Desember 2017
Hidup Bersama Robot Cerdas (BUDIMAN SUDJATMIKO)
Siapa pun yang berhasil
menguasai AI (kecerdasan buatan) akan menguasai dunia.
Vladimir Putin
Kita sedang di ambang revolusi. Revolusi berskala dunia. Berbeda dengan
revolusi sosial, revolusi ini bersifat sosial teknologi.
"Konspirator-konspirator"-nya bukanlah para aktivis serikat buruh,
mahasiswa, atau para filsuf ekonomi. Para penggeraknya adalah
orang-orang imajinatif yang bertemu matematika dan algoritma.
Subversif-subversif zaman kini yang menggunakan matematika dan algoritma
untuk merumuskan imajinasinya.
Tak kali pertama ini terjadi ketika orang-orang imajinatif bertemu
matematika di masa lampau membuat kita tergopoh-gopoh selama beberapa
dekade untuk memecahkan prediksi-prediksinya. Namun, baru di abad ke 21
ini, mereka berskala masif dan agen-agen mereka tak hanya di kampung,
kampus, atau di pabrik tertentu yang terlokalisasi. Agen-agen
revolusinya ada di supercomputer, robot-robot cerdas (artificial
intelligence/AI),smartphone, laptop, bahkan sudah ada di jam-jam tangan!
Pelurunya bukan logam tajam bermesiu, melainkan data besar (big data),
mulai dari tingkat konsumsi pulsa, jumlah klik, denyut nadi, tekanan
darah, jenis makanan, olahraga favorit, musik favorit, sampai golongan
darah.
Selamat datang di Revolusi Industri ke- 4, di mana data yang ditampilkan
bisa diverifikasi faktanya. Bahwa kemudian manusia membangun cerita,
citra, dan mitos terhadapnya, ia masih saja harus berbasis fakta dan
data. Ini revolusi yang mengaburkan batas-batas ruang fisik, digital,
dan biologis. Revolusi yang mengantarkan kita untuk hidup bersama robot
cerdas, yang akan melayani atau mengambil alih 58 persen pekerjaan
fisik, dan menyisakan hal-hal yang kreatif saja untuk diselesaikan otak
dan otot manusia.
Berjejaring
Jejaring adalah wajah era digital. Ia sebenarnya wajah asli alam dan
masyarakat yang lama tersembunyi (baca: disembunyikan), hanya saja
sekarang algoritma teknologi informasi berhasil mengangkatnya ke
penampakan mata manusia. Ia membuat dunia seolah sebuah "desa" di mana
segala hal tidak lagi berada jauh terpisah. Teknologi telah membuat
hampir semua hal yang ada di dunia saat ini terhubung oleh jejaring
fisik dan digital yang masif, di mana informasi, barang, dan jasa
mengalir bebas dalam skala yang sulit kita bayangkan sebelumnya. Segala
hierarki sosial yang vertikal mengarah menjadi horizontal. Paling tidak
diagonal.
Di dalam jejaring itu, ekonomi digital tumbuh dan perlahan mendominasi.
Hanya dalam 20 tahun sejak kelahiran internet, potensi globalnya
diperkirakan 3 triliun dollar AS. Digital bukan lagi sekadar bagian dari
ekonomi, melainkan ia ekonomi itu sendiri. Jejaring merupakan wadah
alami untuk memunculkan paradigma ekonomi baru yang berlandaskan pada
semangat kolaborasi dan partisipasi (participatory market society)
selayaknya gotong royong rakyat desa. Pendekatan kolaboratif perlahan
menjadi konsep yang menyeruak dalam praktik ekonomi generasi milenial,
menggantikan semangat kompetisi yang dominan di era sebelumnya.
Mayoritas bisnis yang disruptif saat ini memfasilitasi munculnya
kolaborasi berbasis platform teknologi. Kolaborasi jadi prasyarat utama
agar perusahaan dapat berinovasi dan bersaing di pasar global yang terus
berubah. Wilayah yang bekerja sama menjadi prasyarat terbangunnya
struktur ekonomi yang kuat dan tahan krisis. Individu yang bekerja sama
menjadi prasyarat utama tercapainya kesuksesan bersama. Di depan warga
desa sering saya istilahkan sebagai desa bekerja, desa berjejaring, dan
desa berinovasi agarwaras bareng, pinter bareng, dan sugih bareng.
Di era digital kita merayakan kelahiran manusia sosial sebagai
alternatif dari manusia ekonomi. Berbeda dengan manusia ekonomi yang
egois, manusia sosial berupaya mengejar keinginannya sembari
mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil terhadap
lingkungan kolaborasi yang dihidupinya. Rute menuju kesuksesan manusia
sosial bukanlah menuju puncak piramida keunggulan satu individu terhadap
individu lain, melainkan menuju sentral jaringan kolaborasi
antarindividu dan sumber daya. Keunggulan individual tak lagi diukur
seberapa besar sumber daya yang dikuasai, tetapi sejauh mana akses
dimiliki mampu melingkupi keseluruhan jejaring. Titik keseimbangan bukan
pada puncak piramida statis, melainkan titik-titik dinamika jejaring
sosial yang terus bergerak.
Pergeseran paradigma ini akan memunculkan perbedaan yang sangat
fundamental secara makro. Paradigma manusia ekonomi yang menjadi fondasi
aktivitas ekonomi manusia selama ini telah berujung pada persoalan
eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan, polusi, dan kerusakan
lingkungan. Kita mengenalnya dalam istilah tragedy of the commons.
Tragedi kepanasan, terendam air, atau sesak napas yang akan menimpa
siapa saja, apa pun agama, ras, akun Twitter, atau grup
Whatsapp-nya. Persoalan itu sangat mungkin teratasi di era saat ini.
Konektivitas di era digital telah menciptakan lingkungan yang sangat
baik untuk munculnya partisipasi dan kerjasama dari bawah secara mandiri
(bottom up self regulation). Namun, ia tidak selalu dapat muncul dengan
sendirinya. Kita perlu secara sengaja menyiapkan kerangka kelembagaan
yang sesuai agar semangat kolaborasi dan partisipasi dapat memberikan
dampak sosial dan individu yang pantas. Inilah tindakan politik.
Skenario
Skenario masa depan di era digital tak selalu berakhir baik. Ia juga
dapat berupa mimpi buruk yang mengempas kita dalam perpecahan dan
ketertinggalan. Persoalan pertama adalah ketidakmerataan akses terhadap
teknologi informasi. Penetrasi internet di Indonesia saat ini masih di
kisaran 25 persen penduduk, mayoritas berada di Jawa dan Sumatera
(digital divide). Akses terhadap teknologi merupakan prasyarat mobilitas
sosial di era digital. Namun, saat ini masih dipengaruhi level
pendidikan, pendapatan, dan pertemanan seseorang. Pemerataan akses harus
disertai peningkatan literasi atas teknologi. Revolusi teknologi
mengharuskan kita sesegera mungkin melakukan revolusi pendidikan.
Pendidikan harus memberikan penekanan pada penguasaan "cara belajar"
daripada sekadar banyak tahu karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan
di era digital. Belajar "cara belajar" dalam rupa merumuskan pertanyaan
dengan tepat akan meningkatkan kemampuan adaptif manusia Indonesia pada
perubahan cepat masa depan.
Persoalan kedua, proses otomasi produksi oleh mesin dan robot akan
mengguncang pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi saat ini telah
memungkinkan produksi barang dan jasa berlangsung tanpa melibatkan
jumlah pekerja yang besar. Hal ini memberikan sinyal, revolusi industri
ke- 4 bisa berujung pada sekadar pengulangan realita ketimpangan
antarindividu dan antarwilayah yang tinggi. Kita jelas membutuhkan
kerangka konseptual dan institusional baru untuk menanggulanginya.
Lagi-lagi ia juga butuh tindakan politik.
Alternatif pertama konsep negara berbagi melalui pemenuhan kebutuhan
dasar universal (universal basic income/UBI) di mana negara menjamin
pendapatan minimum bagi setiap orang untuk melanjutkan kehidupannya
meski tanpa bekerja. UBI, selain sebagai jaring pengaman sosial, juga
akan memberikan keleluasaan bagi setiap orang menjelajahi daya cipta
estetika dan membentuk kemanusiaannya sembari membiarkan persoalan fisik
ditangani mesin dan robot. Saat robot cerdas mengangkut batu atau
melakukan operasi jantung, insinyur dan dokter membuat puisi dan naskah
drama. Negara harus menjamin mereka tetap makan tiga kali sehari untuk
membuat puisi lebih baik lagi.
Alternatif kedua adalah konsep perusahaan berbagi melalui adanya semacam
valuasi dan kompensasi keuangan kepada khalayak banyak atas informasi
pribadi yang mereka berikan secara "sukarela" di ruang-ruang digital.
Informasi "gratisan" tentang kolesterol, film favorit, atau detak
jantung adalah mata uang yang menjadi sumber keuntungan utama korporasi
teknologi saat ini. Persis inilah yang saya lihat di kantor pusat
perusahaan teknologi di Silicon Valley beberapa minggu lalu. Informasi
publik di ruang digital masuk dalam kategori aset terbuka (open asset),
selain konsep aset publik dan pribadi, yang perlu mendapat perlindungan
dari negara. Keuntungan dari aset itu harus dapat divaluasi untuk
kemudian dikembalikan dalam manfaat keuangan sepenuhnya kepada rakyat.
Sekali lagi, ini butuh tindakan politik dalam rupa undang-undang.
Menurut laporan tahunan AI Vibrancy Index 2017, agregat perkembangan AI
di kampus (publikasi ilmiah, konferensi, dan lain-lain) dan industri
(nilai investasi,start up, dan lain-lain) mengalami peningkatan yang
tajam, hampir 7 kali lebih besar dibandingkan awal 2000. AS, Rusia, dan
China adalah tiga negara terdepan dalam balapan teknologi penguasaan AI,
baik dalam kontribusi riset, investasi industri maupun adopsi
teknologi. Ini saja sudah memberikan gambaran sederhana peta negara yang
akan mendominasi dunia di masa depan. Indonesia tentu tidak boleh
melongo saja melihat yang seperti ini.
Tentu bagi Indonesia kutipan Putin di atas bukan dalam kerangka
mendominasi dunia. Penguasaan AI (di antaranya robot-robot cerdas)
adalah jalan untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" sebagaimana amanat
konstitusi kita. Namun, tak hanya itu. Kita juga punya pekerjaan rumah
besar untuk segera memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa karena model ekonomi berbagi yang sedang tren sejauh
ini masih belum menjalar masif ke bawah. Kita perlu mendorongnya
melalui UBI, universal bassic assets, dan pemanfaatan teknologi oleh
unit bisnis rakyat dalam rupa BUMDes, dan badan usaha milik rakyat. Cuma
dengan itu, semua orang Indonesia di desa dan kota siap menyongsong
Revolusi Industri ke-4 dengan wajah berseri-seri.
Budiman Sudjatmiko
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh
menguasai AI (kecerdasan buatan) akan menguasai dunia.
Vladimir Putin
Kita sedang di ambang revolusi. Revolusi berskala dunia. Berbeda dengan
revolusi sosial, revolusi ini bersifat sosial teknologi.
"Konspirator-konspirator"-nya bukanlah para aktivis serikat buruh,
mahasiswa, atau para filsuf ekonomi. Para penggeraknya adalah
orang-orang imajinatif yang bertemu matematika dan algoritma.
Subversif-subversif zaman kini yang menggunakan matematika dan algoritma
untuk merumuskan imajinasinya.
Tak kali pertama ini terjadi ketika orang-orang imajinatif bertemu
matematika di masa lampau membuat kita tergopoh-gopoh selama beberapa
dekade untuk memecahkan prediksi-prediksinya. Namun, baru di abad ke 21
ini, mereka berskala masif dan agen-agen mereka tak hanya di kampung,
kampus, atau di pabrik tertentu yang terlokalisasi. Agen-agen
revolusinya ada di supercomputer, robot-robot cerdas (artificial
intelligence/AI),smartphone, laptop, bahkan sudah ada di jam-jam tangan!
Pelurunya bukan logam tajam bermesiu, melainkan data besar (big data),
mulai dari tingkat konsumsi pulsa, jumlah klik, denyut nadi, tekanan
darah, jenis makanan, olahraga favorit, musik favorit, sampai golongan
darah.
Selamat datang di Revolusi Industri ke- 4, di mana data yang ditampilkan
bisa diverifikasi faktanya. Bahwa kemudian manusia membangun cerita,
citra, dan mitos terhadapnya, ia masih saja harus berbasis fakta dan
data. Ini revolusi yang mengaburkan batas-batas ruang fisik, digital,
dan biologis. Revolusi yang mengantarkan kita untuk hidup bersama robot
cerdas, yang akan melayani atau mengambil alih 58 persen pekerjaan
fisik, dan menyisakan hal-hal yang kreatif saja untuk diselesaikan otak
dan otot manusia.
Berjejaring
Jejaring adalah wajah era digital. Ia sebenarnya wajah asli alam dan
masyarakat yang lama tersembunyi (baca: disembunyikan), hanya saja
sekarang algoritma teknologi informasi berhasil mengangkatnya ke
penampakan mata manusia. Ia membuat dunia seolah sebuah "desa" di mana
segala hal tidak lagi berada jauh terpisah. Teknologi telah membuat
hampir semua hal yang ada di dunia saat ini terhubung oleh jejaring
fisik dan digital yang masif, di mana informasi, barang, dan jasa
mengalir bebas dalam skala yang sulit kita bayangkan sebelumnya. Segala
hierarki sosial yang vertikal mengarah menjadi horizontal. Paling tidak
diagonal.
Di dalam jejaring itu, ekonomi digital tumbuh dan perlahan mendominasi.
Hanya dalam 20 tahun sejak kelahiran internet, potensi globalnya
diperkirakan 3 triliun dollar AS. Digital bukan lagi sekadar bagian dari
ekonomi, melainkan ia ekonomi itu sendiri. Jejaring merupakan wadah
alami untuk memunculkan paradigma ekonomi baru yang berlandaskan pada
semangat kolaborasi dan partisipasi (participatory market society)
selayaknya gotong royong rakyat desa. Pendekatan kolaboratif perlahan
menjadi konsep yang menyeruak dalam praktik ekonomi generasi milenial,
menggantikan semangat kompetisi yang dominan di era sebelumnya.
Mayoritas bisnis yang disruptif saat ini memfasilitasi munculnya
kolaborasi berbasis platform teknologi. Kolaborasi jadi prasyarat utama
agar perusahaan dapat berinovasi dan bersaing di pasar global yang terus
berubah. Wilayah yang bekerja sama menjadi prasyarat terbangunnya
struktur ekonomi yang kuat dan tahan krisis. Individu yang bekerja sama
menjadi prasyarat utama tercapainya kesuksesan bersama. Di depan warga
desa sering saya istilahkan sebagai desa bekerja, desa berjejaring, dan
desa berinovasi agarwaras bareng, pinter bareng, dan sugih bareng.
Di era digital kita merayakan kelahiran manusia sosial sebagai
alternatif dari manusia ekonomi. Berbeda dengan manusia ekonomi yang
egois, manusia sosial berupaya mengejar keinginannya sembari
mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan yang diambil terhadap
lingkungan kolaborasi yang dihidupinya. Rute menuju kesuksesan manusia
sosial bukanlah menuju puncak piramida keunggulan satu individu terhadap
individu lain, melainkan menuju sentral jaringan kolaborasi
antarindividu dan sumber daya. Keunggulan individual tak lagi diukur
seberapa besar sumber daya yang dikuasai, tetapi sejauh mana akses
dimiliki mampu melingkupi keseluruhan jejaring. Titik keseimbangan bukan
pada puncak piramida statis, melainkan titik-titik dinamika jejaring
sosial yang terus bergerak.
Pergeseran paradigma ini akan memunculkan perbedaan yang sangat
fundamental secara makro. Paradigma manusia ekonomi yang menjadi fondasi
aktivitas ekonomi manusia selama ini telah berujung pada persoalan
eksploitasi sumber daya alam, ketimpangan, polusi, dan kerusakan
lingkungan. Kita mengenalnya dalam istilah tragedy of the commons.
Tragedi kepanasan, terendam air, atau sesak napas yang akan menimpa
siapa saja, apa pun agama, ras, akun Twitter, atau grup
Whatsapp-nya. Persoalan itu sangat mungkin teratasi di era saat ini.
Konektivitas di era digital telah menciptakan lingkungan yang sangat
baik untuk munculnya partisipasi dan kerjasama dari bawah secara mandiri
(bottom up self regulation). Namun, ia tidak selalu dapat muncul dengan
sendirinya. Kita perlu secara sengaja menyiapkan kerangka kelembagaan
yang sesuai agar semangat kolaborasi dan partisipasi dapat memberikan
dampak sosial dan individu yang pantas. Inilah tindakan politik.
Skenario
Skenario masa depan di era digital tak selalu berakhir baik. Ia juga
dapat berupa mimpi buruk yang mengempas kita dalam perpecahan dan
ketertinggalan. Persoalan pertama adalah ketidakmerataan akses terhadap
teknologi informasi. Penetrasi internet di Indonesia saat ini masih di
kisaran 25 persen penduduk, mayoritas berada di Jawa dan Sumatera
(digital divide). Akses terhadap teknologi merupakan prasyarat mobilitas
sosial di era digital. Namun, saat ini masih dipengaruhi level
pendidikan, pendapatan, dan pertemanan seseorang. Pemerataan akses harus
disertai peningkatan literasi atas teknologi. Revolusi teknologi
mengharuskan kita sesegera mungkin melakukan revolusi pendidikan.
Pendidikan harus memberikan penekanan pada penguasaan "cara belajar"
daripada sekadar banyak tahu karena banyak tahu bukan lagi keistimewaan
di era digital. Belajar "cara belajar" dalam rupa merumuskan pertanyaan
dengan tepat akan meningkatkan kemampuan adaptif manusia Indonesia pada
perubahan cepat masa depan.
Persoalan kedua, proses otomasi produksi oleh mesin dan robot akan
mengguncang pasar tenaga kerja. Kemajuan teknologi saat ini telah
memungkinkan produksi barang dan jasa berlangsung tanpa melibatkan
jumlah pekerja yang besar. Hal ini memberikan sinyal, revolusi industri
ke- 4 bisa berujung pada sekadar pengulangan realita ketimpangan
antarindividu dan antarwilayah yang tinggi. Kita jelas membutuhkan
kerangka konseptual dan institusional baru untuk menanggulanginya.
Lagi-lagi ia juga butuh tindakan politik.
Alternatif pertama konsep negara berbagi melalui pemenuhan kebutuhan
dasar universal (universal basic income/UBI) di mana negara menjamin
pendapatan minimum bagi setiap orang untuk melanjutkan kehidupannya
meski tanpa bekerja. UBI, selain sebagai jaring pengaman sosial, juga
akan memberikan keleluasaan bagi setiap orang menjelajahi daya cipta
estetika dan membentuk kemanusiaannya sembari membiarkan persoalan fisik
ditangani mesin dan robot. Saat robot cerdas mengangkut batu atau
melakukan operasi jantung, insinyur dan dokter membuat puisi dan naskah
drama. Negara harus menjamin mereka tetap makan tiga kali sehari untuk
membuat puisi lebih baik lagi.
Alternatif kedua adalah konsep perusahaan berbagi melalui adanya semacam
valuasi dan kompensasi keuangan kepada khalayak banyak atas informasi
pribadi yang mereka berikan secara "sukarela" di ruang-ruang digital.
Informasi "gratisan" tentang kolesterol, film favorit, atau detak
jantung adalah mata uang yang menjadi sumber keuntungan utama korporasi
teknologi saat ini. Persis inilah yang saya lihat di kantor pusat
perusahaan teknologi di Silicon Valley beberapa minggu lalu. Informasi
publik di ruang digital masuk dalam kategori aset terbuka (open asset),
selain konsep aset publik dan pribadi, yang perlu mendapat perlindungan
dari negara. Keuntungan dari aset itu harus dapat divaluasi untuk
kemudian dikembalikan dalam manfaat keuangan sepenuhnya kepada rakyat.
Sekali lagi, ini butuh tindakan politik dalam rupa undang-undang.
Menurut laporan tahunan AI Vibrancy Index 2017, agregat perkembangan AI
di kampus (publikasi ilmiah, konferensi, dan lain-lain) dan industri
(nilai investasi,start up, dan lain-lain) mengalami peningkatan yang
tajam, hampir 7 kali lebih besar dibandingkan awal 2000. AS, Rusia, dan
China adalah tiga negara terdepan dalam balapan teknologi penguasaan AI,
baik dalam kontribusi riset, investasi industri maupun adopsi
teknologi. Ini saja sudah memberikan gambaran sederhana peta negara yang
akan mendominasi dunia di masa depan. Indonesia tentu tidak boleh
melongo saja melihat yang seperti ini.
Tentu bagi Indonesia kutipan Putin di atas bukan dalam kerangka
mendominasi dunia. Penguasaan AI (di antaranya robot-robot cerdas)
adalah jalan untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" sebagaimana amanat
konstitusi kita. Namun, tak hanya itu. Kita juga punya pekerjaan rumah
besar untuk segera memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa karena model ekonomi berbagi yang sedang tren sejauh
ini masih belum menjalar masif ke bawah. Kita perlu mendorongnya
melalui UBI, universal bassic assets, dan pemanfaatan teknologi oleh
unit bisnis rakyat dalam rupa BUMDes, dan badan usaha milik rakyat. Cuma
dengan itu, semua orang Indonesia di desa dan kota siap menyongsong
Revolusi Industri ke-4 dengan wajah berseri-seri.
Budiman Sudjatmiko
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh
Rabu, 13 Desember 2017
Keriangan yang Punah (DAMHURI MUHAMMAD)
Jangan bergegas menuju
dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di
masa kanak-kanak
Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan
akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan
banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya, orangtua menginginkan anaknya lekas
besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal
permainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Bodi utamanya terbuat
dari satu belahan simetris kulit jeruk. Lalu, bagian atap diambil dari
belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk
dari bahan yang sama, dibuat dengan perkakas sederhana sehingga
ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara
bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran
kecil. Mobil kulit jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan
dengan tali rafia hingga dapat dihela ke mana suka.
Satu-dua hari kulit jeruk tentu akan layu dan lisut, hingga mobil
berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu,
warnanya juga akan berubah. Tetapi, anak-anak masa lalu masih
menyeretnya ke mana-mana. Bahkan, masih digasak di gelanggang balapan
dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur di jalan
berbatu. Tak usah khawatir sebab persediaan jeruk bali melimpah. Mereka
akan kembali membuat mobil baru untuk kemudian dihancurkan kembali.
Barang langka
Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri,
meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin
terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal,
lalu main bersama hingga tiba waktu senja.
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain meriam bambu. Terbuat dari
dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian
pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak
tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik
api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal meriam.
Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara
satu kampung dan kampung lain. Kadang-kadang meriam bambu juga digunakan
sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah
sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan lima meriam
berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan
jumlah meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang
sesuai aba-aba, di ujung tiap meriam dipasangkan tempurung kelapa
terlebih dulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung
kelapa yang beterbangan.
Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu. Tetapi,
yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator meriam
yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas
tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di
situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka
sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran
terkena jilatan api meriam bambu.
Siapa tak kenal petak umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tak memiliki
permainan ini meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan
populer ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang
setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak sudah bersembunyi
di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas
mencari pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian,
sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang
muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan
anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan,
juga tawa, karena mereka telah tertipu secara berjemaah. Meski begitu,
esoknya mereka bermain lagi.
Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa,
apalagi di kota-kota besar. Suatu kali, pada masa liburan sekolah, saya
mengajak anak- anak saya mudik ke pedalaman Sumatera. Saya hendak
memperkenalkan "adu sijontu" alias adu jangkrik, permainan masa kecil
yang saya gemari.
Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa
ekor sijontu jantan, saya bertanya kepada seorang anak tetangga perihal
di mana sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan
saja karena ia tak bisa menunjukkan sarang sijontu, tetapi juga karena
ia betul-betul tak mengenal makhluk bernama sijontu itu.
Kecanduan gawai
Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan
dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan,
bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS).
Jika penyewaan PS penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar,
bermain game online di telepon pintar. Dalam permainan digital itu,
mereka terhubung oleh koneksi internet, tetapi tak saling berjumpa meski
berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi "Kids Jaman Now" telah
membuat mereka malas bergerak dan tak gandrung bercengkrama di alam
terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health
di Boston Children's Hospital, mengungkapkan, pada 2013 sedikitnya 70
persen anak usia delapan tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat
gawai, sepertismartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya
masih di angka 38 persen.
Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan, lebih
dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam
sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama
mencatat, satu dari tiga anak bahkan mulai menggunakansmartphone ketika
berumur 3 tahun. Laporan ini menunjukkan jutaan anak telah mengalami
kecanduan gawai.
Apabila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat
mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat
jaringan Wi-Fi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan,
gelisah tiada tentu arah sebab kebiasaan bermain di dunia virtual adalah
nyawa kedua mereka. Lalu, di mana gundu, congklak, lompat tali, gobak
sodor, pletokan, engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara
yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya?
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi
hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tetapi proses kreatif
saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya,
kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai
apabila permainan itu digelar di dunia nyata tiada bakal tergantikan
oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam
kebersamaan, generasi "Kids Jaman Now" justru karam di liang-liang
keterasingan.…
dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di
masa kanak-kanak
Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan
akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan
banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya, orangtua menginginkan anaknya lekas
besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal
permainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Bodi utamanya terbuat
dari satu belahan simetris kulit jeruk. Lalu, bagian atap diambil dari
belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk
dari bahan yang sama, dibuat dengan perkakas sederhana sehingga
ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara
bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran
kecil. Mobil kulit jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan
dengan tali rafia hingga dapat dihela ke mana suka.
Satu-dua hari kulit jeruk tentu akan layu dan lisut, hingga mobil
berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu,
warnanya juga akan berubah. Tetapi, anak-anak masa lalu masih
menyeretnya ke mana-mana. Bahkan, masih digasak di gelanggang balapan
dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur di jalan
berbatu. Tak usah khawatir sebab persediaan jeruk bali melimpah. Mereka
akan kembali membuat mobil baru untuk kemudian dihancurkan kembali.
Barang langka
Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri,
meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin
terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal,
lalu main bersama hingga tiba waktu senja.
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain meriam bambu. Terbuat dari
dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian
pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak
tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik
api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal meriam.
Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara
satu kampung dan kampung lain. Kadang-kadang meriam bambu juga digunakan
sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah
sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan lima meriam
berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan
jumlah meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang
sesuai aba-aba, di ujung tiap meriam dipasangkan tempurung kelapa
terlebih dulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung
kelapa yang beterbangan.
Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu. Tetapi,
yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator meriam
yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas
tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di
situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka
sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran
terkena jilatan api meriam bambu.
Siapa tak kenal petak umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tak memiliki
permainan ini meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan
populer ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang
setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak sudah bersembunyi
di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas
mencari pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian,
sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang
muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan
anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan,
juga tawa, karena mereka telah tertipu secara berjemaah. Meski begitu,
esoknya mereka bermain lagi.
Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa,
apalagi di kota-kota besar. Suatu kali, pada masa liburan sekolah, saya
mengajak anak- anak saya mudik ke pedalaman Sumatera. Saya hendak
memperkenalkan "adu sijontu" alias adu jangkrik, permainan masa kecil
yang saya gemari.
Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa
ekor sijontu jantan, saya bertanya kepada seorang anak tetangga perihal
di mana sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan
saja karena ia tak bisa menunjukkan sarang sijontu, tetapi juga karena
ia betul-betul tak mengenal makhluk bernama sijontu itu.
Kecanduan gawai
Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan
dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan,
bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS).
Jika penyewaan PS penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar,
bermain game online di telepon pintar. Dalam permainan digital itu,
mereka terhubung oleh koneksi internet, tetapi tak saling berjumpa meski
berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi "Kids Jaman Now" telah
membuat mereka malas bergerak dan tak gandrung bercengkrama di alam
terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health
di Boston Children's Hospital, mengungkapkan, pada 2013 sedikitnya 70
persen anak usia delapan tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat
gawai, sepertismartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya
masih di angka 38 persen.
Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan, lebih
dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam
sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama
mencatat, satu dari tiga anak bahkan mulai menggunakansmartphone ketika
berumur 3 tahun. Laporan ini menunjukkan jutaan anak telah mengalami
kecanduan gawai.
Apabila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat
mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat
jaringan Wi-Fi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan,
gelisah tiada tentu arah sebab kebiasaan bermain di dunia virtual adalah
nyawa kedua mereka. Lalu, di mana gundu, congklak, lompat tali, gobak
sodor, pletokan, engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara
yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya?
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi
hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tetapi proses kreatif
saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya,
kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai
apabila permainan itu digelar di dunia nyata tiada bakal tergantikan
oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam
kebersamaan, generasi "Kids Jaman Now" justru karam di liang-liang
keterasingan.…
Jangan bergegas menuju
dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di
masa kanak-kanak
Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan
akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan
banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya, orangtua menginginkan anaknya lekas
besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal
permainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Bodi utamanya terbuat
dari satu belahan simetris kulit jeruk. Lalu, bagian atap diambil dari
belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk
dari bahan yang sama, dibuat dengan perkakas sederhana sehingga
ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara
bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran
kecil. Mobil kulit jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan
dengan tali rafia hingga dapat dihela ke mana suka.
Satu-dua hari kulit jeruk tentu akan layu dan lisut, hingga mobil
berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu,
warnanya juga akan berubah. Tetapi, anak-anak masa lalu masih
menyeretnya ke mana-mana. Bahkan, masih digasak di gelanggang balapan
dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur di jalan
berbatu. Tak usah khawatir sebab persediaan jeruk bali melimpah. Mereka
akan kembali membuat mobil baru untuk kemudian dihancurkan kembali.
Barang langka
Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri,
meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin
terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal,
lalu main bersama hingga tiba waktu senja.
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain meriam bambu. Terbuat dari
dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian
pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak
tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik
api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal meriam.
Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara
satu kampung dan kampung lain. Kadang-kadang meriam bambu juga digunakan
sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah
sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan lima meriam
berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan
jumlah meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang
sesuai aba-aba, di ujung tiap meriam dipasangkan tempurung kelapa
terlebih dulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung
kelapa yang beterbangan.
Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu. Tetapi,
yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator meriam
yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas
tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di
situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka
sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran
terkena jilatan api meriam bambu.
Siapa tak kenal petak umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tak memiliki
permainan ini meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan
populer ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang
setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak sudah bersembunyi
di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas
mencari pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian,
sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang
muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan
anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan,
juga tawa, karena mereka telah tertipu secara berjemaah. Meski begitu,
esoknya mereka bermain lagi.
Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa,
apalagi di kota-kota besar. Suatu kali, pada masa liburan sekolah, saya
mengajak anak- anak saya mudik ke pedalaman Sumatera. Saya hendak
memperkenalkan "adu sijontu" alias adu jangkrik, permainan masa kecil
yang saya gemari.
Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa
ekor sijontu jantan, saya bertanya kepada seorang anak tetangga perihal
di mana sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan
saja karena ia tak bisa menunjukkan sarang sijontu, tetapi juga karena
ia betul-betul tak mengenal makhluk bernama sijontu itu.
Kecanduan gawai
Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan
dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan,
bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS).
Jika penyewaan PS penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar,
bermain game online di telepon pintar. Dalam permainan digital itu,
mereka terhubung oleh koneksi internet, tetapi tak saling berjumpa meski
berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi "Kids Jaman Now" telah
membuat mereka malas bergerak dan tak gandrung bercengkrama di alam
terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health
di Boston Children's Hospital, mengungkapkan, pada 2013 sedikitnya 70
persen anak usia delapan tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat
gawai, sepertismartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya
masih di angka 38 persen.
Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan, lebih
dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam
sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama
mencatat, satu dari tiga anak bahkan mulai menggunakansmartphone ketika
berumur 3 tahun. Laporan ini menunjukkan jutaan anak telah mengalami
kecanduan gawai.
Apabila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat
mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat
jaringan Wi-Fi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan,
gelisah tiada tentu arah sebab kebiasaan bermain di dunia virtual adalah
nyawa kedua mereka. Lalu, di mana gundu, congklak, lompat tali, gobak
sodor, pletokan, engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara
yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya?
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi
hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tetapi proses kreatif
saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya,
kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai
apabila permainan itu digelar di dunia nyata tiada bakal tergantikan
oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam
kebersamaan, generasi "Kids Jaman Now" justru karam di liang-liang
keterasingan.…
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Senin, 11 Desember 2017
Pintar tapi Mager (Khoiruddin Bashori)
GENERASI zaman now adalah generasi baru yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia digital.
Jika angkatan lama lebih akrab dengan media cetak seperti koran, majalah, dan buku, juga media elektronik seperti radio dan televisi, generasi sekarang sejak usia dini lekat dengan gadget.
Sudah menjadi pemandangan umum di mana-mana, anak bermain gim atau menonton film kartun di telepon seluler (ponsel).
Youtube menjadi 'teman' bermain dan sumber petualangan imajinatif anak.
Mereka ini disebut dengan digital native, pribumi digital alias penduduk asli dunia maya.
Adapun generasi tua, bapak-ibu dan kakek-nenek mereka, dikenal sebagai digital immigrant, pengungsi digital, atau pendatang baru di dunia maya yang berasal dari dunia lama yang sarat dengan kertas dan barang cetakan.
Di era digital dengan dominasi internet di hampir semua lini kehidupan, kini lahir budaya baru; bedroom culture.
Semua cukup dilakukan dari tempat tidur. Akibatnya anak menjadi malas bergerak, mager.
'Mager tapi laper?' (begitu tagline iklan sebuah perusahaan ojek berbasis aplikasi), tinggal buka aplikasi, pesan dan pengemudi ojek dengan siap melaksanakan tugas mengantarkan pesanan untuk memuaskan selera kuliner kita.
Kecenderungan orang untuk malas bergerak akan semakin menemukan momentumnya.
Teknologi informasi dan model bisnis daring di era ini memfasilitasi kecenderungan kita untuk mager.
Akses informasi sangat mudah, hampir tanpa batas, dan cukup dilakukan dari kamar tidur. Anak sekolah ke depan, karenanya akan cenderung semakin pinter tapi mager.
Dalam kondisi demikian dapat dipahami manakala pelajaran olahraga atau pendidikan jasmani--tempo doeloe disebut PD atau kini PJOK--bukan saja jamnya sedikit, melainkan juga sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan siswa.
Pelajaran ini jarang disikapi dengan gegap gempita oleh warga belajar, dengan antusiasme yang tinggi, malah tidak jarang dianggap sebagai beban.
Apalagi jika dilakukan pada siang hari yang panas; sesi diikuti dengan setengah hati, sekadar memenuhi kewajiban kurikulum.
Sikap siswa terhadap pendidikan jasmani berbanding terbalik dengan apa yang mereka lakukan terhadap mata pelajaran andalan, utamanya yang akan diujikan dalam ujian nasional.
Problem obesitas anak
Manakala gerak fisik minimal olahraga diabaikan, obesitas anak menjadi persoalan endemik di berbagai belahan dunia, utamanya di negara-negara dengan tingkat kesejahteraan penduduknya yang lebih baik.
Berbeda dengan anak-anak di negara berkembang yang masih berkutat dengan persoalan gizi buruk,
anak-anak di negara maju justru bermasalah dengan 'kelebihan gizi'.
Obesitas karenanya menjadi masalah sosial yang tidak sederhana dan telah menjadi tren global (WHO: 1997).
Padahal, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai studi, anak dengan masalah obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan.
Masalah kejiwaan juga kerap dialami anak-anak dengan kelebihan berat badan dan obesitas ini, seperti isolasi sosial dan potensi disfungsi psikologis (Friedman, Story dan Perry, 1995; Must, 1996; Must and Strauss, 1999).
Dalam kultur kita, anak-anak muda dengan kelebihan berat badan sering kali digambarkan sebagai jelek, bodoh, tidak jujur, dan malas. Oleh karena itu pula mereka kemudian kerap menjadi objek perundungan.
Anak-anak semacam ini juga memiliki morbiditas lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lebih kurus.
Mereka lebih rentan terpapar penyakit. Sekadar menyebut contoh, anak dengan masalah obesitas lebih berisiko terkena asma, dan terbukti cenderung menggunakan lebih banyak obat untuk menyembuhkannya, mendesah lebih banyak, melakukan lebih banyak kunjungan tak terjadwal ke rumah sakit, dan lebih sering tidak masuk sekolah sebagai akibat dari asmanya, manakala dibandingkan dengan anak-anak penderita asma yang kurus (Belamarich et al., 2000; Luder, Melnik dan DiMaio, 1998).
Dalam jangka pendek, anak dengan masalah obesitas cenderung mengalami masalah gastrointestinal, kardiovaskular, endokrin dan ortopedi tertentu, bila dibandingkan dengan rekan sejawatnya yang relatif lebih kurus.
Risiko ini dapat memburuk dalam jangka panjang. Penelitian juga menunjukkan gadis dengan kelebihan berat badan atau kegemukan cenderung mengidap kelainan sistem reproduksi seperti pubertas dan menarche yang lebih awal, dan sindrom ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome/PCOS) yang menggangu keseimbangan kadar hormonal (Goran, 2001; Must, 1996; Must and Strauss, 1999; Taitz, 1983).
Pada sindrom ini, tubuh wanita memproduksi hormon laki-laki (androgen) secara berlebihan sehingga menyebabkan beberapa masalah kesehatan yang serius, seperti infertilitas.
Data dari penelitian longitudinal bahkan memberikan informasi yang lebih menyakinkan bahwa dalam jangka panjang prevalensi faktor risiko penyakit kardiovaskular terus meningkat dari waktu kewaktu seiring dengan kelebihan berat badan dan obesitas (Goran, 2001).
Singkatnya, kegemukan yang berlanjut sejak kecil hingga dewasa akan meningkatkan risiko morbiditas. Anak menjadi sangat rentan terkena berbagai gangguan, baik fisik maupun psikologis.
Secara etiologis, obesitas dapat disebabkan berbagai faktor. Selain faktor keturunan, faktor lingkungan yang tidak menguntungkan disebut sebagai biang keladinya.
Faktor lingkungan seperti diet dan aktivitas fisik sangat besar kontribusinya pada obesitas (Weinsier dkk, 1998).
Meningkatnya konsumsi produk makanan olahan yang mengandung lemak jenuh dan kadar gula tinggi telah lama diketahui sebagai faktor asupan energi utama yang berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa.
Di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, ada bukti aktivitas fisik di kalangan kaum muda telah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir dan bersamaan dengan itu diikuti peningkatan prevalensi obesitas (Luepker, 1999).
Hal yang sama juga dilaporkan terjadi di Australia (Dollman dkk, 1999).
Gaya hidup sehat
Olahraga sebenarnya tidak hanya terkait dengan kesehatan jasmani semata, tapi juga berhubungan erat dengan pengembangan semangat juang warga belajar.
Olahraga melatih siswa untuk membiasakan diri bersikap sportif, menyukai tugas yang menantang, selalu mencari kesempatan untuk memuaskan rasa ingin unggul, bertanggung jawab terhadap tugas, gigih berusaha mewujudkan impian, berani mengambil risiko, dan senang menerima umpan balik dari pekerjaannya. Semangat untuk berjuang meraih cita-cita setinggi langit dapat ditumbuhkan dari sini.
Manakala olahraga dilakukan siswa dengan benar dan rutin, yang bersangkutan tanpa sengaja telah belajar self-regulation, pengaturan diri.
Sebuah kapasitas yang sangat diperlukan agar individu dapat melakukan interaksi sosial dengan berhasil.
Tanpa pengaturan diri yang baik, kerukunan hidup sulit diperoleh.
Minus kemampuan ini akan meningkatkan konflik antarpribadi.
Melalui aneka permainan olahraga, siswa dilatih untuk mampu mengendalikan amarah, mengatasi kesedihan, memiliki daya tahan terhadap stres, penyesuaiaan diri, integritas pribadi, dan sanggup menata diri untuk menggapai tujuan jangka panjang.
Team work (kerja tim) adalah manfaat lain olahraga.
Dengan berolahraga siswa belajar untuk dapat melakukan negosiasi terhadap pandangan yang berbeda, memiliki pemahaman yang jelas akan peran diri dan anggota kelompoknya, mengembangkan kekuatan masing-masing yang saling mendukung, saling menghormati dalam berinteraksi, meningkatkan rasa saling percaya, dan berinteraksi secara harmonis dalam kelompok.
Kerja tim adalah kapasitas yang sangat dibutuhkan siswa ke depan.
Tidak sedikit survei membuktikan, salah satu kemampuan penting yang diperlukan seseorang agar dapat sukses di dunia kerja ialah kemampuan bekerja dalam kelompok.
Dengan demikian, tarikan yang sangat kuat dari bedroom culture di era ini harus diimbangi dengan penguatan gaya hidup sehat.
Gaya hidup yang tidak semata dengan mempertimbangkan asupan gizi yang seimbang.
Namun, yang lebih penting dari itu ialah menjadikan olehraga tidak terbatas sebagai mata pelajaran di sekolah, tapi juga menjadi gaya hidup. Tiada hari tanpa olahraga.
Jika filosof Muhammad Iqbal berteriak di dunia ini tidak ada tempat untuk berhenti, berhenti berarti mati, maka teriakan itu perlu dilengkapi dengan slogan, di dunia ini tidak ada hari tanpa olahraga, berhenti olahraga berarti celaka.
Khoiruddin Bashori Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta
Jika angkatan lama lebih akrab dengan media cetak seperti koran, majalah, dan buku, juga media elektronik seperti radio dan televisi, generasi sekarang sejak usia dini lekat dengan gadget.
Sudah menjadi pemandangan umum di mana-mana, anak bermain gim atau menonton film kartun di telepon seluler (ponsel).
Youtube menjadi 'teman' bermain dan sumber petualangan imajinatif anak.
Mereka ini disebut dengan digital native, pribumi digital alias penduduk asli dunia maya.
Adapun generasi tua, bapak-ibu dan kakek-nenek mereka, dikenal sebagai digital immigrant, pengungsi digital, atau pendatang baru di dunia maya yang berasal dari dunia lama yang sarat dengan kertas dan barang cetakan.
Di era digital dengan dominasi internet di hampir semua lini kehidupan, kini lahir budaya baru; bedroom culture.
Semua cukup dilakukan dari tempat tidur. Akibatnya anak menjadi malas bergerak, mager.
'Mager tapi laper?' (begitu tagline iklan sebuah perusahaan ojek berbasis aplikasi), tinggal buka aplikasi, pesan dan pengemudi ojek dengan siap melaksanakan tugas mengantarkan pesanan untuk memuaskan selera kuliner kita.
Kecenderungan orang untuk malas bergerak akan semakin menemukan momentumnya.
Teknologi informasi dan model bisnis daring di era ini memfasilitasi kecenderungan kita untuk mager.
Akses informasi sangat mudah, hampir tanpa batas, dan cukup dilakukan dari kamar tidur. Anak sekolah ke depan, karenanya akan cenderung semakin pinter tapi mager.
Dalam kondisi demikian dapat dipahami manakala pelajaran olahraga atau pendidikan jasmani--tempo doeloe disebut PD atau kini PJOK--bukan saja jamnya sedikit, melainkan juga sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan siswa.
Pelajaran ini jarang disikapi dengan gegap gempita oleh warga belajar, dengan antusiasme yang tinggi, malah tidak jarang dianggap sebagai beban.
Apalagi jika dilakukan pada siang hari yang panas; sesi diikuti dengan setengah hati, sekadar memenuhi kewajiban kurikulum.
Sikap siswa terhadap pendidikan jasmani berbanding terbalik dengan apa yang mereka lakukan terhadap mata pelajaran andalan, utamanya yang akan diujikan dalam ujian nasional.
Problem obesitas anak
Manakala gerak fisik minimal olahraga diabaikan, obesitas anak menjadi persoalan endemik di berbagai belahan dunia, utamanya di negara-negara dengan tingkat kesejahteraan penduduknya yang lebih baik.
Berbeda dengan anak-anak di negara berkembang yang masih berkutat dengan persoalan gizi buruk,
anak-anak di negara maju justru bermasalah dengan 'kelebihan gizi'.
Obesitas karenanya menjadi masalah sosial yang tidak sederhana dan telah menjadi tren global (WHO: 1997).
Padahal, sebagaimana ditunjukkan dalam berbagai studi, anak dengan masalah obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan.
Masalah kejiwaan juga kerap dialami anak-anak dengan kelebihan berat badan dan obesitas ini, seperti isolasi sosial dan potensi disfungsi psikologis (Friedman, Story dan Perry, 1995; Must, 1996; Must and Strauss, 1999).
Dalam kultur kita, anak-anak muda dengan kelebihan berat badan sering kali digambarkan sebagai jelek, bodoh, tidak jujur, dan malas. Oleh karena itu pula mereka kemudian kerap menjadi objek perundungan.
Anak-anak semacam ini juga memiliki morbiditas lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lebih kurus.
Mereka lebih rentan terpapar penyakit. Sekadar menyebut contoh, anak dengan masalah obesitas lebih berisiko terkena asma, dan terbukti cenderung menggunakan lebih banyak obat untuk menyembuhkannya, mendesah lebih banyak, melakukan lebih banyak kunjungan tak terjadwal ke rumah sakit, dan lebih sering tidak masuk sekolah sebagai akibat dari asmanya, manakala dibandingkan dengan anak-anak penderita asma yang kurus (Belamarich et al., 2000; Luder, Melnik dan DiMaio, 1998).
Dalam jangka pendek, anak dengan masalah obesitas cenderung mengalami masalah gastrointestinal, kardiovaskular, endokrin dan ortopedi tertentu, bila dibandingkan dengan rekan sejawatnya yang relatif lebih kurus.
Risiko ini dapat memburuk dalam jangka panjang. Penelitian juga menunjukkan gadis dengan kelebihan berat badan atau kegemukan cenderung mengidap kelainan sistem reproduksi seperti pubertas dan menarche yang lebih awal, dan sindrom ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome/PCOS) yang menggangu keseimbangan kadar hormonal (Goran, 2001; Must, 1996; Must and Strauss, 1999; Taitz, 1983).
Pada sindrom ini, tubuh wanita memproduksi hormon laki-laki (androgen) secara berlebihan sehingga menyebabkan beberapa masalah kesehatan yang serius, seperti infertilitas.
Data dari penelitian longitudinal bahkan memberikan informasi yang lebih menyakinkan bahwa dalam jangka panjang prevalensi faktor risiko penyakit kardiovaskular terus meningkat dari waktu kewaktu seiring dengan kelebihan berat badan dan obesitas (Goran, 2001).
Singkatnya, kegemukan yang berlanjut sejak kecil hingga dewasa akan meningkatkan risiko morbiditas. Anak menjadi sangat rentan terkena berbagai gangguan, baik fisik maupun psikologis.
Secara etiologis, obesitas dapat disebabkan berbagai faktor. Selain faktor keturunan, faktor lingkungan yang tidak menguntungkan disebut sebagai biang keladinya.
Faktor lingkungan seperti diet dan aktivitas fisik sangat besar kontribusinya pada obesitas (Weinsier dkk, 1998).
Meningkatnya konsumsi produk makanan olahan yang mengandung lemak jenuh dan kadar gula tinggi telah lama diketahui sebagai faktor asupan energi utama yang berkontribusi terhadap kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa.
Di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, ada bukti aktivitas fisik di kalangan kaum muda telah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir dan bersamaan dengan itu diikuti peningkatan prevalensi obesitas (Luepker, 1999).
Hal yang sama juga dilaporkan terjadi di Australia (Dollman dkk, 1999).
Gaya hidup sehat
Olahraga sebenarnya tidak hanya terkait dengan kesehatan jasmani semata, tapi juga berhubungan erat dengan pengembangan semangat juang warga belajar.
Olahraga melatih siswa untuk membiasakan diri bersikap sportif, menyukai tugas yang menantang, selalu mencari kesempatan untuk memuaskan rasa ingin unggul, bertanggung jawab terhadap tugas, gigih berusaha mewujudkan impian, berani mengambil risiko, dan senang menerima umpan balik dari pekerjaannya. Semangat untuk berjuang meraih cita-cita setinggi langit dapat ditumbuhkan dari sini.
Manakala olahraga dilakukan siswa dengan benar dan rutin, yang bersangkutan tanpa sengaja telah belajar self-regulation, pengaturan diri.
Sebuah kapasitas yang sangat diperlukan agar individu dapat melakukan interaksi sosial dengan berhasil.
Tanpa pengaturan diri yang baik, kerukunan hidup sulit diperoleh.
Minus kemampuan ini akan meningkatkan konflik antarpribadi.
Melalui aneka permainan olahraga, siswa dilatih untuk mampu mengendalikan amarah, mengatasi kesedihan, memiliki daya tahan terhadap stres, penyesuaiaan diri, integritas pribadi, dan sanggup menata diri untuk menggapai tujuan jangka panjang.
Team work (kerja tim) adalah manfaat lain olahraga.
Dengan berolahraga siswa belajar untuk dapat melakukan negosiasi terhadap pandangan yang berbeda, memiliki pemahaman yang jelas akan peran diri dan anggota kelompoknya, mengembangkan kekuatan masing-masing yang saling mendukung, saling menghormati dalam berinteraksi, meningkatkan rasa saling percaya, dan berinteraksi secara harmonis dalam kelompok.
Kerja tim adalah kapasitas yang sangat dibutuhkan siswa ke depan.
Tidak sedikit survei membuktikan, salah satu kemampuan penting yang diperlukan seseorang agar dapat sukses di dunia kerja ialah kemampuan bekerja dalam kelompok.
Dengan demikian, tarikan yang sangat kuat dari bedroom culture di era ini harus diimbangi dengan penguatan gaya hidup sehat.
Gaya hidup yang tidak semata dengan mempertimbangkan asupan gizi yang seimbang.
Namun, yang lebih penting dari itu ialah menjadikan olehraga tidak terbatas sebagai mata pelajaran di sekolah, tapi juga menjadi gaya hidup. Tiada hari tanpa olahraga.
Jika filosof Muhammad Iqbal berteriak di dunia ini tidak ada tempat untuk berhenti, berhenti berarti mati, maka teriakan itu perlu dilengkapi dengan slogan, di dunia ini tidak ada hari tanpa olahraga, berhenti olahraga berarti celaka.
Khoiruddin Bashori Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta
PJOK dan Hidup yang Lebih Baik (Rahmad Hidayat)
RISET Kesehatan Dasar yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada
2013 (Riskesdas 2013), mencatat bahwa penyakit hipertensi, penyakit
sendi/encok/reumatik, dan stroke merupakan tiga dari lima ancaman
kesehatan tertinggi di Indonesia.
Dua penyakit lainnya ialah hepatitis B dan kekurangan gizi pada balita. Hipertensi dianggap sebagai ancaman kesehatan terbesar dengan angka prevalensi 25,8%.
Penyakit sendi berada di urutan kedua setelah hipertensi dengan angka prevalensi 24,7%, sedangkan stroke berada di urutan keempat dengan angka prevalensi 12,1% (Riset Kesehatan Dasar 2013).
Salah satu penyebab paling umum dari ketiga penyakit tersebut ialah kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan.
Oleh karena itu, ketiga ancaman kesehatan tersebut dapat dicegah dengan cara yang paling murah, yakni dengan melakukan aktivitas fisik/olahraga teratur.
Namun, melakukan aktivitas fisik--seperti olahraga--yang teratur telah menjadi tantangan tersendiri di era modern.
Kemudahan yang diberikan oleh penemuan teknologi--terutama teknologi informasi dan komunikasi--membuat manusia dapat melakukan banyak hal tanpa perlu melakukan aktivitas fisik seperti di masa sebelumnya.
Teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah gaya hidup masyarakat. Masyarakat perkotaan pada masa kini, misalnya, lebih banyak menghabiskan hidup mereka dengan duduk saat bekerja di kantor, menonton televisi, berkomunikasi, ataupun duduk di kendaraan saat melakukan perjalanan.
Hal ini memicu peningkatan gaya hidup atau perilaku sedentari (sedentary life style) atau juga dikenal sebagai sitting disease, yaitu perilaku atau gaya hidup dengan sedikit atau sama sekali tanpa aktivitas fisik seperti duduk atau berbaring dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja (kerja di depan komputer, membaca, dll), di rumah (menonton TV, main gim, dll), di perjalanan/transportasi (bus, kereta, motor), tetapi tidak termasuk waktu tidur (Riskesdas 2013, hlm 139).
Gaya hidup sedentari rentan terhadap ancaman kesehatan, seperti hipertensi, penyakit sendi, dan stroke.
Sampai 2013, hampir separuh dari proporsi penduduk berumur 10 tahun berperilaku sedentari 3-5,9 jam per hari (42%), sedangkan perilaku sedentari di atas 6 jam terjadi pada hampir setiap satu dari empat penduduk Indonesia (24,1%) (Riskesdas 2013, hlm 140).
Kehidupan tanpa aktivitas fisik yang memadai juga dianggap sebagai faktor risiko keempat tertinggi yang menyebabkan kematian di dunia setelah hipertensi, merokok, dan kadar glukosa darah yang tinggi/penyakit gula.
Kematian yang disebabkan oleh perilaku/gaya hidup sedentari mencapai angka 3,2 juta kematian atau 5,5% dari total kematian di dunia (WHO, Global Health Risk: Mortality and Burden of Deases Attributable to Selected Major Risk, 2009, hal 11). Tak pelak, kebutuhan untuk melawan perilaku sedentari menjadi penting di era teknologi modern.
Manusia perlu untuk bergerak lebih demi derajat kualitas kesehatan yang lebih baik.
Peran pembelajaran PJOK
Ranah pendidikan dapat menjadi ajang untuk memainkan peran bagi tumbuhnya perilaku hidup yang lebih sehat dan aktif.
Salah satunya melalui penguatan pelajaran olahraga di sekolah atau yang sekarang dikenal sebagai pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK).
PJOK bisa menjadi alat alternatif yang ampuh untuk menumbuhkan kesadaran bagi generasi milenial Indonesia untuk lebih banyak bergerak dan melakukan aktivitas fisik daripada hanya duduk atau terlentang berjam-jam di depan gawai.
Saat ini bisa dipastikan generasi muda di Indonesia menghabiskan sebagian waktu mereka dengan memanfaatkan jaringan internet melalui gawai yang mereka miliki dan aktif menggunakan berbagai aplikasi media sosial.
Pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia (256,2 juta jiwa).
Bahkan berdasarkan data yang juga dikeluarkan APJII, pengguna aktif internet di Indonesia yang berada pada kisaran umur 10-24 mencapai 24,4 juta orang (18,4%).
Sementara pelajar yang menggunakan internet berjumlah 8,3 juta orang atau 6,3% dari total pengguna internet nasional (Survei Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia: 2016).
Bagaimana PJOK dapat menjadi alat alternatif untuk menumbuhkan perilaku hidup yang lebih aktif dan sehat atau perilaku yang nonsedentari?
Hal ini bisa dilihat dari tujuan pengajaran PJOK, yaitu untuk membangun pemahaman personal tentang arti hidup sehat terhadap seseorang, baik sebagai individu maupun warga masyarakat di abad ke-21.
PJOK juga berfokus pada upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik, terutama pada hubungan antara kesehatan fisik, emosional, dan mental (British Columbia Ministry of Education, Introduction to Physical and Health Education, 2015).
Pembelajaran PJOK merupakan sarana membangun pemahaman kepada generasi usia sekolah tentang pentingnya untuk melakukan aktivitas fisik demi kualitas hidup yang lebih baik.
Pada titik ini, peran pembelajaran PJOK menjadi penting untuk benar-benar dipahami secara substantif oleh para guru yang mengajar di sekolah.
Pada dasarnya, PJOK memiliki cakupan yang luas dengan titik perhatian pada peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, PJOK juga berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya; hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwa.
Namun, fenomena yang terjadi hari ini ialah sebagian besar guru PJOK tidak benar-benar memahami esensi dari pembelajaran PJOK itu sehingga hanya menempatkan diri mereka sebagai 'guru olahraga' yang hanya memberikan materi mengenai keterampilan dan praktik pada cabang olahraga semata, tanpa menimbang nilai-nilai yang bisa dipahami dalam gerak dan aktivitas fisik dalam sebuah cabang olahraga.
Di sisi lain, masih banyak guru PJOK yang memberikan pembelajaran hanya sebagai bagian dari rutinitas kerja semata.
Mentalitas semacam ini melahirkan kesan bahwa pelajaran PJOK dipandang sebagai mata pelajaran 'kelas dua' atau 'kurang penting' di banyak sekolah di Indonesia.
Banyak pihak yang beranggapan bahwa pembelajaran PJOK ialah pembelajaran yang sepele tanpa perlu persiapan materi yang rumit sebagaimana pelajaran-pelajaran lainnya.
Asumsi ini tentu saja keliru karena pada dasarnya pembelajaran PJOK tidak hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik yang terisolasi, tetapi harus ditempatkan dalam konteks pendidikan secara umum, yang setiap prosesnya mengandung unsur-unsur pedagogis.
Melihat pada data dan fakta gaya hidup sedentari yang terjadi saat ini, penting bagi dunia pendidikan untuk dapat mengambil peran dalam meminimalisasi kemungkinan kecenderungan perilaku tidak sehat generasi milenial.
Langkah yang dapat dilakukan dunia pendidikan ialah melalui pemberdayaan pembelajaran PJOK. Upaya ini setidaknya dapat dimulai dengan meningkatkan kualitas guru PJOK, perbaikan metode pembelajaran dan kurikulum PJOK, serta penyediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai bagi pembelajaran PJOK.
Upaya-upaya ini setidaknya bisa dilakukan sebagai langkah awal menuju generasi yang memiliki dan menghargai gaya dan kualitas hidup yang lebih sehat dan lebih baik di masa mendatang.
Rahmad Hidayat Guru PJOK Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh
Dua penyakit lainnya ialah hepatitis B dan kekurangan gizi pada balita. Hipertensi dianggap sebagai ancaman kesehatan terbesar dengan angka prevalensi 25,8%.
Penyakit sendi berada di urutan kedua setelah hipertensi dengan angka prevalensi 24,7%, sedangkan stroke berada di urutan keempat dengan angka prevalensi 12,1% (Riset Kesehatan Dasar 2013).
Salah satu penyebab paling umum dari ketiga penyakit tersebut ialah kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan.
Oleh karena itu, ketiga ancaman kesehatan tersebut dapat dicegah dengan cara yang paling murah, yakni dengan melakukan aktivitas fisik/olahraga teratur.
Namun, melakukan aktivitas fisik--seperti olahraga--yang teratur telah menjadi tantangan tersendiri di era modern.
Kemudahan yang diberikan oleh penemuan teknologi--terutama teknologi informasi dan komunikasi--membuat manusia dapat melakukan banyak hal tanpa perlu melakukan aktivitas fisik seperti di masa sebelumnya.
Teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah gaya hidup masyarakat. Masyarakat perkotaan pada masa kini, misalnya, lebih banyak menghabiskan hidup mereka dengan duduk saat bekerja di kantor, menonton televisi, berkomunikasi, ataupun duduk di kendaraan saat melakukan perjalanan.
Hal ini memicu peningkatan gaya hidup atau perilaku sedentari (sedentary life style) atau juga dikenal sebagai sitting disease, yaitu perilaku atau gaya hidup dengan sedikit atau sama sekali tanpa aktivitas fisik seperti duduk atau berbaring dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja (kerja di depan komputer, membaca, dll), di rumah (menonton TV, main gim, dll), di perjalanan/transportasi (bus, kereta, motor), tetapi tidak termasuk waktu tidur (Riskesdas 2013, hlm 139).
Gaya hidup sedentari rentan terhadap ancaman kesehatan, seperti hipertensi, penyakit sendi, dan stroke.
Sampai 2013, hampir separuh dari proporsi penduduk berumur 10 tahun berperilaku sedentari 3-5,9 jam per hari (42%), sedangkan perilaku sedentari di atas 6 jam terjadi pada hampir setiap satu dari empat penduduk Indonesia (24,1%) (Riskesdas 2013, hlm 140).
Kehidupan tanpa aktivitas fisik yang memadai juga dianggap sebagai faktor risiko keempat tertinggi yang menyebabkan kematian di dunia setelah hipertensi, merokok, dan kadar glukosa darah yang tinggi/penyakit gula.
Kematian yang disebabkan oleh perilaku/gaya hidup sedentari mencapai angka 3,2 juta kematian atau 5,5% dari total kematian di dunia (WHO, Global Health Risk: Mortality and Burden of Deases Attributable to Selected Major Risk, 2009, hal 11). Tak pelak, kebutuhan untuk melawan perilaku sedentari menjadi penting di era teknologi modern.
Manusia perlu untuk bergerak lebih demi derajat kualitas kesehatan yang lebih baik.
Peran pembelajaran PJOK
Ranah pendidikan dapat menjadi ajang untuk memainkan peran bagi tumbuhnya perilaku hidup yang lebih sehat dan aktif.
Salah satunya melalui penguatan pelajaran olahraga di sekolah atau yang sekarang dikenal sebagai pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK).
PJOK bisa menjadi alat alternatif yang ampuh untuk menumbuhkan kesadaran bagi generasi milenial Indonesia untuk lebih banyak bergerak dan melakukan aktivitas fisik daripada hanya duduk atau terlentang berjam-jam di depan gawai.
Saat ini bisa dipastikan generasi muda di Indonesia menghabiskan sebagian waktu mereka dengan memanfaatkan jaringan internet melalui gawai yang mereka miliki dan aktif menggunakan berbagai aplikasi media sosial.
Pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia (256,2 juta jiwa).
Bahkan berdasarkan data yang juga dikeluarkan APJII, pengguna aktif internet di Indonesia yang berada pada kisaran umur 10-24 mencapai 24,4 juta orang (18,4%).
Sementara pelajar yang menggunakan internet berjumlah 8,3 juta orang atau 6,3% dari total pengguna internet nasional (Survei Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia: 2016).
Bagaimana PJOK dapat menjadi alat alternatif untuk menumbuhkan perilaku hidup yang lebih aktif dan sehat atau perilaku yang nonsedentari?
Hal ini bisa dilihat dari tujuan pengajaran PJOK, yaitu untuk membangun pemahaman personal tentang arti hidup sehat terhadap seseorang, baik sebagai individu maupun warga masyarakat di abad ke-21.
PJOK juga berfokus pada upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik, terutama pada hubungan antara kesehatan fisik, emosional, dan mental (British Columbia Ministry of Education, Introduction to Physical and Health Education, 2015).
Pembelajaran PJOK merupakan sarana membangun pemahaman kepada generasi usia sekolah tentang pentingnya untuk melakukan aktivitas fisik demi kualitas hidup yang lebih baik.
Pada titik ini, peran pembelajaran PJOK menjadi penting untuk benar-benar dipahami secara substantif oleh para guru yang mengajar di sekolah.
Pada dasarnya, PJOK memiliki cakupan yang luas dengan titik perhatian pada peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, PJOK juga berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya; hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwa.
Namun, fenomena yang terjadi hari ini ialah sebagian besar guru PJOK tidak benar-benar memahami esensi dari pembelajaran PJOK itu sehingga hanya menempatkan diri mereka sebagai 'guru olahraga' yang hanya memberikan materi mengenai keterampilan dan praktik pada cabang olahraga semata, tanpa menimbang nilai-nilai yang bisa dipahami dalam gerak dan aktivitas fisik dalam sebuah cabang olahraga.
Di sisi lain, masih banyak guru PJOK yang memberikan pembelajaran hanya sebagai bagian dari rutinitas kerja semata.
Mentalitas semacam ini melahirkan kesan bahwa pelajaran PJOK dipandang sebagai mata pelajaran 'kelas dua' atau 'kurang penting' di banyak sekolah di Indonesia.
Banyak pihak yang beranggapan bahwa pembelajaran PJOK ialah pembelajaran yang sepele tanpa perlu persiapan materi yang rumit sebagaimana pelajaran-pelajaran lainnya.
Asumsi ini tentu saja keliru karena pada dasarnya pembelajaran PJOK tidak hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik yang terisolasi, tetapi harus ditempatkan dalam konteks pendidikan secara umum, yang setiap prosesnya mengandung unsur-unsur pedagogis.
Melihat pada data dan fakta gaya hidup sedentari yang terjadi saat ini, penting bagi dunia pendidikan untuk dapat mengambil peran dalam meminimalisasi kemungkinan kecenderungan perilaku tidak sehat generasi milenial.
Langkah yang dapat dilakukan dunia pendidikan ialah melalui pemberdayaan pembelajaran PJOK. Upaya ini setidaknya dapat dimulai dengan meningkatkan kualitas guru PJOK, perbaikan metode pembelajaran dan kurikulum PJOK, serta penyediaan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai bagi pembelajaran PJOK.
Upaya-upaya ini setidaknya bisa dilakukan sebagai langkah awal menuju generasi yang memiliki dan menghargai gaya dan kualitas hidup yang lebih sehat dan lebih baik di masa mendatang.
Rahmad Hidayat Guru PJOK Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh
Minggu, 10 Desember 2017
Sekolah dan Keluarga (HMS Iriyanto)
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan
kebijakan baru yang mengatur tentang keterlibatkan keluarga pada
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Permendikbud Nomor 30 Tahun 2017
bertujuan untuk meningkatkan kepedulian serta tanggung jawab keluarga
dan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Sinergi
antara sekolah, keluarga, dan masyarakat diharapkan dapat menjadi sarana
penguat pendidikan karakter.
Pelibatan keluarga dilakukan dengan prinsip persamaan hak, dan semangat kebersamaan yang berasaskan gotong royong. Dengan berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi anak, maka penanaman jati diri bangsa dilakukan dengan prinsip saling asah, asih, dan asuh. Untuk mempercepat keberhasilan pendidikan, maka suasana lingkungan rumah tangga dan sekolah harus aman, nyaman, dan menyenangkan.
Keluarga diharapkan berperan aktif menumbuhkan nilai-nilai karakter positif pada diri seorang anak. Dengan mendorong budaya literasi, semangat belajar anak termotivasi. Fasilitas dan kebutuhan belajar di rumah dan di sekolah dilengkapi. Untuk mencegah terjadinya tindakan anarkis dan perkelahian yang melibatkan pelajar, keluarga harus menjalin komunikasi dengan sekolah.
Keluarga
Tugas dan peran keluarga adalah mengasuh, membesarkan dan mengarahkan anak pada proses pendewasaannya, serta menanamkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Orangtua berkewajiban membina anak agar memiliki akidah yang kuat, fisik yang sehat, ekonomi yang mapan, serta kepekaan sosial yang tinggi. Tugas yang sangat mulia ini dapat terwujud bila orangtua melakukannya dengan sungguh-sungguh, sabar, dan ikhlas.
Dalam realitas sehari-hari, ada orangtua yang bersikap kurang peduli pada perkembangan pendidikan anaknya. Padahal anak sangat senang apabila mendapat perhatian dan pujian dari kedua orangtuanya. Anak akan berusaha dan bekerja keras menunjukkan prestasi belajarnya di sekolah, apabila dihargai oleh ibu dan bapaknya. Keluarga berperan untuk menyiapkan anak yang mampu mendidik dirinya sendiri sepanjang hidupnya.
Keluarga menjadi sumber pengetahuan pertama bagi anak, karena peradaban manusia dimulai dari lingkungan rumah tangga. Keluarga juga berperan dalam menanamkan sikap cinta tanah air pada jiwa seorang anak. Cara terbaik untuk mengedukasi anak dalam era globalisasi ialah dengan mengajaknya berdiskusi tentang kehidupan. Anak lebih butuh kehadiran orangtuanya, daripada hadiah yang mahal harganya.
Orangtua yang sukses adalah yang hari ini berjuang untuk anaknya, guna menggapai kebahagiaan pada masa yang akan datang. Sebaiknya orangtua tidak hanya sibuk dengan urusannya, karena anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang darinya. Seorang anak hanya memiliki masa kecil sekali dalam seumur hidupnya. Sungguh merugi orangtua yang tidak bisa memanfaatkan keindahan dunia bersama anak-anaknya.
Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban. Tidak hanya mengembangkan potensi dasar peserta didik dalam aspek ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam aspek tingkah laku dan budi pekerti. Sekolah harus menjadi tempat pembentukan karakter anak bangsa agar berakhlak mulia. Peserta didik harus diberi pemahaman, bahwa ilmu yang didapat di sekolah akan diaktualisasikan di masyarakat.
Fungsi sekolah yang paling utama adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual, harus sejalan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral. Sekolah memegang peranan penting pada proses pembentukan individu yang mandiri dan bertanggung jawab, sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Konsekuensi dari kesibukan orangtua dengan pekerjaan rutinnya atau kegiatan lain di luar rumah, membuat peran sekolah semakin besar dan kompleks. Keluarga yang seharusnya berperan menjadi tempat pendidikan utama, mengalihkan sebagian fungsinya ke sekolah. Peran orangtua sebagai pendidik sejati, terpaksa digantikan dan diserahkan kepada guru disekolah. Keberadaan guru profesional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Guru profesional bukanlah yang mampu menciptakan muridnya agar seperti gurunya, tetapi mengembangkan muridnya agar mampu menjadi dirinya sendiri. Guru Indonesia harus cerdas dalam berpikir, cermat dalam berbuat, jujur dalam bersikap, berani ketika bertindak, serta ikhlas dalam mendidik tunas muda harapan bangsa.
Harmonisasi
Dengan memberikan motivasi dan mencarikan solusi, potensi seorang anak dapat ditumbuhkembangkan. Jika komunikasi orangtua dengan guru berjalan dengan baik, perkembangan anak akan terarah dan muncul secara optimal. Bimbingan yang diberikan kepada anak ketika berada dirumah dan disekolah harus mempunyai visi yang sama, yaitu ingin mengantarkan anak kedepan pintu gerbang kehidupan yang sesungguhnya.
Keterlibatan orangtua di sekolah harus berdampak positif bagi kemajuan pendidikan. Orangtua jangan terlalu ikut campur dalam urusan teknis pembelajaran, karena merupakan kewenangan kepala sekolah dan guru. Keterlibatan orang tua di sekolah jangan dimanfaatkan hanya sebagai alat pengumpul uang. Sumbangan dari orangtua murid diprioritaskan untuk peningkatan mutu pendidikan, bukan untuk menambah kesejahteraan.
Anak merupakan karunia Allah untuk zaman yang akan datang, bukan untuk zaman sekarang. Jika salah dalam mendidik, tingkah laku mereka akan lebih parah dari kelakuan manusia yang hidup diazaman ini. Jangan sampai ada waktu yang berlalu tanpa karya anak bangsa untuk membangun negeri. Orang tua dan guru harus selalu dekat dengan anak-anaknya, sehingga mereka merasakan indahnya hidup bersama orang tua dan gurunya.
Hal penting yang sangat diperlukan oleh seorang anak adalah doa dari orangtua untuk kemudahan dan kesuksesan putra-putrinya. Doa orangtua merupakan keramat bagi anak-anaknya, karena dapat mendatangkan ketenangan hidup, serta menambah cinta dan kasih sayang anak pada kedua orangtuanya.***
Pelibatan keluarga dilakukan dengan prinsip persamaan hak, dan semangat kebersamaan yang berasaskan gotong royong. Dengan berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi anak, maka penanaman jati diri bangsa dilakukan dengan prinsip saling asah, asih, dan asuh. Untuk mempercepat keberhasilan pendidikan, maka suasana lingkungan rumah tangga dan sekolah harus aman, nyaman, dan menyenangkan.
Keluarga diharapkan berperan aktif menumbuhkan nilai-nilai karakter positif pada diri seorang anak. Dengan mendorong budaya literasi, semangat belajar anak termotivasi. Fasilitas dan kebutuhan belajar di rumah dan di sekolah dilengkapi. Untuk mencegah terjadinya tindakan anarkis dan perkelahian yang melibatkan pelajar, keluarga harus menjalin komunikasi dengan sekolah.
Keluarga
Tugas dan peran keluarga adalah mengasuh, membesarkan dan mengarahkan anak pada proses pendewasaannya, serta menanamkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Orangtua berkewajiban membina anak agar memiliki akidah yang kuat, fisik yang sehat, ekonomi yang mapan, serta kepekaan sosial yang tinggi. Tugas yang sangat mulia ini dapat terwujud bila orangtua melakukannya dengan sungguh-sungguh, sabar, dan ikhlas.
Dalam realitas sehari-hari, ada orangtua yang bersikap kurang peduli pada perkembangan pendidikan anaknya. Padahal anak sangat senang apabila mendapat perhatian dan pujian dari kedua orangtuanya. Anak akan berusaha dan bekerja keras menunjukkan prestasi belajarnya di sekolah, apabila dihargai oleh ibu dan bapaknya. Keluarga berperan untuk menyiapkan anak yang mampu mendidik dirinya sendiri sepanjang hidupnya.
Keluarga menjadi sumber pengetahuan pertama bagi anak, karena peradaban manusia dimulai dari lingkungan rumah tangga. Keluarga juga berperan dalam menanamkan sikap cinta tanah air pada jiwa seorang anak. Cara terbaik untuk mengedukasi anak dalam era globalisasi ialah dengan mengajaknya berdiskusi tentang kehidupan. Anak lebih butuh kehadiran orangtuanya, daripada hadiah yang mahal harganya.
Orangtua yang sukses adalah yang hari ini berjuang untuk anaknya, guna menggapai kebahagiaan pada masa yang akan datang. Sebaiknya orangtua tidak hanya sibuk dengan urusannya, karena anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang darinya. Seorang anak hanya memiliki masa kecil sekali dalam seumur hidupnya. Sungguh merugi orangtua yang tidak bisa memanfaatkan keindahan dunia bersama anak-anaknya.
Sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan yang menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban. Tidak hanya mengembangkan potensi dasar peserta didik dalam aspek ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam aspek tingkah laku dan budi pekerti. Sekolah harus menjadi tempat pembentukan karakter anak bangsa agar berakhlak mulia. Peserta didik harus diberi pemahaman, bahwa ilmu yang didapat di sekolah akan diaktualisasikan di masyarakat.
Fungsi sekolah yang paling utama adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual, harus sejalan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral. Sekolah memegang peranan penting pada proses pembentukan individu yang mandiri dan bertanggung jawab, sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungannya.
Konsekuensi dari kesibukan orangtua dengan pekerjaan rutinnya atau kegiatan lain di luar rumah, membuat peran sekolah semakin besar dan kompleks. Keluarga yang seharusnya berperan menjadi tempat pendidikan utama, mengalihkan sebagian fungsinya ke sekolah. Peran orangtua sebagai pendidik sejati, terpaksa digantikan dan diserahkan kepada guru disekolah. Keberadaan guru profesional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Guru profesional bukanlah yang mampu menciptakan muridnya agar seperti gurunya, tetapi mengembangkan muridnya agar mampu menjadi dirinya sendiri. Guru Indonesia harus cerdas dalam berpikir, cermat dalam berbuat, jujur dalam bersikap, berani ketika bertindak, serta ikhlas dalam mendidik tunas muda harapan bangsa.
Harmonisasi
Dengan memberikan motivasi dan mencarikan solusi, potensi seorang anak dapat ditumbuhkembangkan. Jika komunikasi orangtua dengan guru berjalan dengan baik, perkembangan anak akan terarah dan muncul secara optimal. Bimbingan yang diberikan kepada anak ketika berada dirumah dan disekolah harus mempunyai visi yang sama, yaitu ingin mengantarkan anak kedepan pintu gerbang kehidupan yang sesungguhnya.
Keterlibatan orangtua di sekolah harus berdampak positif bagi kemajuan pendidikan. Orangtua jangan terlalu ikut campur dalam urusan teknis pembelajaran, karena merupakan kewenangan kepala sekolah dan guru. Keterlibatan orang tua di sekolah jangan dimanfaatkan hanya sebagai alat pengumpul uang. Sumbangan dari orangtua murid diprioritaskan untuk peningkatan mutu pendidikan, bukan untuk menambah kesejahteraan.
Anak merupakan karunia Allah untuk zaman yang akan datang, bukan untuk zaman sekarang. Jika salah dalam mendidik, tingkah laku mereka akan lebih parah dari kelakuan manusia yang hidup diazaman ini. Jangan sampai ada waktu yang berlalu tanpa karya anak bangsa untuk membangun negeri. Orang tua dan guru harus selalu dekat dengan anak-anaknya, sehingga mereka merasakan indahnya hidup bersama orang tua dan gurunya.
Hal penting yang sangat diperlukan oleh seorang anak adalah doa dari orangtua untuk kemudahan dan kesuksesan putra-putrinya. Doa orangtua merupakan keramat bagi anak-anaknya, karena dapat mendatangkan ketenangan hidup, serta menambah cinta dan kasih sayang anak pada kedua orangtuanya.***
HMS Iriyanto
Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Bandung,
Koordinator Komunitas Peduli Pendidikan Jawa Barat
HMS Iriyanto
Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Bandung,
Koordinator Komunitas Peduli Pendidikan Jawa Barat
Sabtu, 09 Desember 2017
Sosmed Dalam Pendidikan ‘Now’ (FX Triyas Hadi Prihantoro MP.)
ZAMAN ‘now’, pendidikan telah berubah dari
masa analog ke masa digital. Siswa dan guru tidak lagi secara manual
melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan aktivitas ceramah,
mendengarkan, mencatat saja. Namun sudah lebih massif menggunakan dan
memanfaatkan sarana teknologi dan informasi (internet).
Perubahan sosial kemasyarakatan membuat pola, cara pendidikan pun berubah. Guru dan siswa bersama-sama menjadi subjek dan objek belajar. Guru tidak hanya sekadar transfer of knowledge namun juga menjadi insan pembelajar. Saling melengkapi, membantu dan terkait untuk memenuhi kebutuhan dalam KBM bahkan bisa jadi saling menggurui. Karena konsep belajar zaman ‘now’ semakin terbuka dan transparan. Sisi tenaga dan waktu, dimana pun, kapan pun siswa dan guru bersama-sama bisa saling belajar. Menjadikan konsep belajar tanpa batas, ruang dan waktu.
Belajar
Melihat berbagai perubahan sistem dan cara dalam mendidik, siswa dan guru menjadi agen perubahan. Dalam zaman digital pendidikan dan belajar menjadi mudah dan semakin cepat. Konsep e-learning (pembelajaran yang berbasis internet) memudahkan siswa dan guru bisa saling mengakses dan berkomunikasi secara cepat.
Materi pelajaran, tugas dan evaluasi (ulangan) bisa dilakukan dalam pembelajaran berbasis ITE. Maka diusahakan sarana dan prasarana yang ada dalam dunia maya, idealnya dimanfaatkan sebenar-benarnya. Melalui jaringan internet guru dan siswa langsung berinteraksi dalam berbagai akun, melalui pembuatan blog, twiter, facebook, path, yahoo messenger dan berbagai fasilitas lain dalam sosial media.
Dengan demikian, pemanfaatan ITE dengan sosial media (sosmed), dapat dimanfaatkan secara positif. Pertemanan dalam berbagai akun, baik antara antarsiswa, guru dan siswa melalui sosmed saling menguatkan dan mengalirkan nilai-nilai positif dan menguatkan.
Namun kadang kita lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu tak ubahnya pisau bermata dua. Fasilitas ITE itu ternyata tidak hanya memudahkan siswa mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik. Melalui alat-alat komunikasi supercanggih itu, siswa akan terjembatani untuk mengeksplorasi persoalan-persoalan sensitif, yang secara materi barangkali tidak tepat atau belum sesuai dengan jenjang umur dan level kedewasaan mereka ( Yulina Eva Riany.2014).
Belajar dari kasus viral video pemukulan guru berdurasi 37 detik kepada siswa -- semula disebutkan di SMP 10 Pangkal Pinang Bangka Belitung namun sudah ada klarifikasi Pemda dan KPAI tidak terjadi di sekolah dan provinsi tersebut (red)-- di sosmed awal Nopember 2017. Dibutuhkan sebuah kesadaran bersama di lingkungan sekolah, bahwa berbagai kegiatan, aksi dan perilaku dalam KBM dengan mudah direkam dan disebarkan.
Banyak kasus lain juga bisa terjadi didunia pendidikan, cyberbullying (kekerasan dunia maya). Kekecewaan siswa atau guru dalam KBM bisa jadi diungkapkan dalam sosmed menjadikan semua masyarakat dunia tahu apa yang sedang terjadi dalam institusi tersebut. Karena dalam sosmed beranggotakan banyak manusia yang memiliki akal dan nurani.
Sarana Humanisasi
Bila pemanfaatan sosmed dalam dunia pendidikan tidak ditempatkan sebagaimana mestinya, maka dengan mudah pendidikan menjadi rusak dan amburadul. Seharusnya sosmed manjadi sarana humanisasi (memanusiakan manusia) dengan saling bertukar ide positif, kreatif dan inovatif. Bukan untuk bullying, melalui ungkapan kasar yang memojokkan seseorang, meng-upload gambar tanpa izin yang provokatif.
Idealnya dengan keleluasaan dunia pendidikan untuk mengakses sumber informasi di dunia maya itu membuka peluang besar bagi proses internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan kepribadian dan karakter siswa. Dengan demikian langkah-langkah protektif dan antisipatif menjadi mutlak ditempuh untuk menghindarkan siswa dari ragam pengaruh negatif dunia maya yang sering lepas kendali dan kontrol.
Idealnya sosmed, bagi guru dan siswa harus saling menjaga perasaan dan hati. Ungkapan ketidaksukaan (marah) bisa dilakukan dengan mengirimkan lewat inbox atau email tanpa harus dipublikasikan secara umum lewat status. Karena prinsipnya manusia itu unik yang menjadikan berbeda satu sama lain. Maka, siswa, guru untuk sosmed bisa dimanfaatkan sebesarbesarnya demi kemaslahatan. Maka setiap guru di kelas bisa menjadikan kasus penyalahgunaan sosmed sebagai pembelajaran demi keberadaban di zaman ‘now’.
(FX Triyas Hadi Prihantoro MP. Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 17 November 2017)
Perubahan sosial kemasyarakatan membuat pola, cara pendidikan pun berubah. Guru dan siswa bersama-sama menjadi subjek dan objek belajar. Guru tidak hanya sekadar transfer of knowledge namun juga menjadi insan pembelajar. Saling melengkapi, membantu dan terkait untuk memenuhi kebutuhan dalam KBM bahkan bisa jadi saling menggurui. Karena konsep belajar zaman ‘now’ semakin terbuka dan transparan. Sisi tenaga dan waktu, dimana pun, kapan pun siswa dan guru bersama-sama bisa saling belajar. Menjadikan konsep belajar tanpa batas, ruang dan waktu.
Belajar
Melihat berbagai perubahan sistem dan cara dalam mendidik, siswa dan guru menjadi agen perubahan. Dalam zaman digital pendidikan dan belajar menjadi mudah dan semakin cepat. Konsep e-learning (pembelajaran yang berbasis internet) memudahkan siswa dan guru bisa saling mengakses dan berkomunikasi secara cepat.
Materi pelajaran, tugas dan evaluasi (ulangan) bisa dilakukan dalam pembelajaran berbasis ITE. Maka diusahakan sarana dan prasarana yang ada dalam dunia maya, idealnya dimanfaatkan sebenar-benarnya. Melalui jaringan internet guru dan siswa langsung berinteraksi dalam berbagai akun, melalui pembuatan blog, twiter, facebook, path, yahoo messenger dan berbagai fasilitas lain dalam sosial media.
Dengan demikian, pemanfaatan ITE dengan sosial media (sosmed), dapat dimanfaatkan secara positif. Pertemanan dalam berbagai akun, baik antara antarsiswa, guru dan siswa melalui sosmed saling menguatkan dan mengalirkan nilai-nilai positif dan menguatkan.
Namun kadang kita lupa bahwa fasilitas yang diberikan itu tak ubahnya pisau bermata dua. Fasilitas ITE itu ternyata tidak hanya memudahkan siswa mudah bersosialisasi dengan teman sebayanya, tetapi juga berpotensi menikam mereka dari belakang akibat intensitasnya mengeksplorasi isi materi dunia maya yang tidak mendidik. Melalui alat-alat komunikasi supercanggih itu, siswa akan terjembatani untuk mengeksplorasi persoalan-persoalan sensitif, yang secara materi barangkali tidak tepat atau belum sesuai dengan jenjang umur dan level kedewasaan mereka ( Yulina Eva Riany.2014).
Belajar dari kasus viral video pemukulan guru berdurasi 37 detik kepada siswa -- semula disebutkan di SMP 10 Pangkal Pinang Bangka Belitung namun sudah ada klarifikasi Pemda dan KPAI tidak terjadi di sekolah dan provinsi tersebut (red)-- di sosmed awal Nopember 2017. Dibutuhkan sebuah kesadaran bersama di lingkungan sekolah, bahwa berbagai kegiatan, aksi dan perilaku dalam KBM dengan mudah direkam dan disebarkan.
Banyak kasus lain juga bisa terjadi didunia pendidikan, cyberbullying (kekerasan dunia maya). Kekecewaan siswa atau guru dalam KBM bisa jadi diungkapkan dalam sosmed menjadikan semua masyarakat dunia tahu apa yang sedang terjadi dalam institusi tersebut. Karena dalam sosmed beranggotakan banyak manusia yang memiliki akal dan nurani.
Sarana Humanisasi
Bila pemanfaatan sosmed dalam dunia pendidikan tidak ditempatkan sebagaimana mestinya, maka dengan mudah pendidikan menjadi rusak dan amburadul. Seharusnya sosmed manjadi sarana humanisasi (memanusiakan manusia) dengan saling bertukar ide positif, kreatif dan inovatif. Bukan untuk bullying, melalui ungkapan kasar yang memojokkan seseorang, meng-upload gambar tanpa izin yang provokatif.
Idealnya dengan keleluasaan dunia pendidikan untuk mengakses sumber informasi di dunia maya itu membuka peluang besar bagi proses internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan kepribadian dan karakter siswa. Dengan demikian langkah-langkah protektif dan antisipatif menjadi mutlak ditempuh untuk menghindarkan siswa dari ragam pengaruh negatif dunia maya yang sering lepas kendali dan kontrol.
Idealnya sosmed, bagi guru dan siswa harus saling menjaga perasaan dan hati. Ungkapan ketidaksukaan (marah) bisa dilakukan dengan mengirimkan lewat inbox atau email tanpa harus dipublikasikan secara umum lewat status. Karena prinsipnya manusia itu unik yang menjadikan berbeda satu sama lain. Maka, siswa, guru untuk sosmed bisa dimanfaatkan sebesarbesarnya demi kemaslahatan. Maka setiap guru di kelas bisa menjadikan kasus penyalahgunaan sosmed sebagai pembelajaran demi keberadaban di zaman ‘now’.
(FX Triyas Hadi Prihantoro MP. Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 17 November 2017)
Model Pendidikan Guru Masa Depan (Prof Dr Buchory MS MPd.)
BANGSA Indonesia akan memasuki tahun emas pada
2045, saat kita memperingati satu abad kemerdekaan negara ini. Sumber
daya manusia (SDM) tahun itu adalah anak bangsa yang sekarang duduk di
jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pada tahun tersebut mereka berada
pada usia produktif yang akan menentukan perjalanan Bangsa Indonesia.
Untuk menuju 2045, tuntutan kualitas pendidikan Bangsa Indonesia tentu
sangat tinggi sehingga diperlukan guru yang lebih profesional di era
disrupsi ditandai oleh perubahan yang sangat cepat.
Model pendidikan guru dewasa ini belum memberikan jaminan dihasilkannya pendidik yang profesional untuk mempersiapkan generasi emas tersebut. Pola pendidikan guru terlalu menekankan pada sisi akademik dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadiannya. Pendidikan guru yang ada masih bertopang pada paradigma guru sebagai penyampai pengetahuan. Sehingga diasumsikan bahwa guru yang baik adalah yang menguasai pengetahuan dan cakap menyampaikannya. Hal ini mengabaikan tugas guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan sumber keteladanan dalam pengembangan kepribadian peserta didik.
Hakikatnya pendidikan guru adalah pembentukan kepribadian disamping penguasaan materi ajar. Pola pendidikan guru juga masih terisolasi dengan sub-sistem manajemen lainnya seperti rekrutmen, penempatan, mutasi, promosi, penggajian, dan pembinaan profesi. Akibatnya jumlah calon guru yang dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak terkait dengan kondisi kebutuhan lapangan. Baik kuantitas, kualitas, maupun kesepadannya dengan kebutuhan nyata.
Tantangan LPTK
Untuk mempersiapkan pendidik profesional masa depan, telah dikeluarkan Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru. Dalam Permenristekdikti ditegaskan, model pendidikan guru dilaksanakan dalam bentuk Program Sarjana Pendidikan dan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pendidikan guru bersifat nasional agar dapat menghasilkan guru yang profesional, nasionalis dan memiliki wawasan global sesuai dengan kebutuhan nasional, lokal, dan perkembangan Iptek.
Untuk menyelenggarakan Program Sarjana Pendidikan tentu tidak mengalami permasalahan. Karena semua LPTK yang telah mendapat izin Kemenristekdikti berhak sebagai penyelenggara. Tetapi untuk Program PPG hanya akan diselenggarakan LPTK yang ditetapkan menteri. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah LPTK di Indonesia sekitar 415 baik negeri maupun swasta. Jumlah tersebut terdiri atas 12 LPTK eks IKIP Negeri, 24 FKIP negeri, 1 FKIP Universitas Terbuka, dan 377 LPTK Swasta. Dapat dibayangkan kalau jumlah LPTK yang ditetapkan menjadi penyelenggara PPG terbatas, maka akan menimbulkan permasalahan nasional di negeri ini.
Tantangannya adalah tidak semua LPTK terutama swasta, dapat ditugasi sebagai penyelenggara program PPG. Tantangan lain bagi LPTK Swasta, ke depan penerimaan mahasiswa baru Program Sarjana Pendidikan dan Program PPG dilaksanakan melalui sistem penerimaan mahasiswa baru yang bersifat nasional untuk seleksi kemampuan akademik, meskipun seleksi bakat, minat, kepribadian, dan kesamaptaan dilakukan oleh LPTK. Untuk menjamin mutu penyelenggaraannya, LPTK harus memenuhi Standar Program Sarjana Pendidikan dan Program PPG, sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan standar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Skripsi
Model pembelajaran Program Sarjana Pendidikan di antaranya berupa praktikum, yaitu Pembelajaran Mikro untuk melatih keterampilan mengajar dan praktik lapangan dalam bentuk Praktik Lapangan Persekolahan (PLP), berupa proses observasi dan pemagangan pembelajaran di sekolah. Sedangkan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), yaitu kegiatan mempraktikkan kemampuan dalam pembelajaran baru dilaksanakan pada Program PPG.
Kegiatan pembelajaran Program Sarjana Pendidikan diakhiri dengan ujian hasil penyusunan deskripsi saintifik berbentuk skripsi, laporan tugas akhir, atau karya ilmiah yang setara. Untuk kegiatan Program PPG, diakhiri dengan uji kompetensi yang diselenggarakan panitia nasional, terdiri ujian tulis dan ujian kinerja. Peserta Program PPG yang lulus penilaian proses dan produk pengembangan perangkat pembelajaran, proses dan produk PPL, uji kompetensi, dan penilaian kehidupan berasrama, memperoleh sertifikat pendidik yang berlaku secara nasional.
Dengan adanya model pendidikan guru seperti di atas, LPTK perlu segera menyesuaikan diri dalam waktu dua tahun sejak Permenristekdikti tersebut diundangkan. Sehingga dapat menghasilkan guru yang berkualitas dan profesional. Yang mampu mengantarkan peserta-didik yang cerdas, kritis, kreatif, inovatif, berkarakter Indonesia, dan siap memasuki tahun emas 2045. Dirgahayu HUT ke-72 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2017.
(Prof Dr Buchory MS MPd. Pengurus Pusat Asosiasi LPTK Swasta Indonesia (ALPTKSI), Pengurus PGRI DIY dan Guru Besar UPY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 22 November 2017)
Model pendidikan guru dewasa ini belum memberikan jaminan dihasilkannya pendidik yang profesional untuk mempersiapkan generasi emas tersebut. Pola pendidikan guru terlalu menekankan pada sisi akademik dan kurang memperhatikan pengembangan kepribadiannya. Pendidikan guru yang ada masih bertopang pada paradigma guru sebagai penyampai pengetahuan. Sehingga diasumsikan bahwa guru yang baik adalah yang menguasai pengetahuan dan cakap menyampaikannya. Hal ini mengabaikan tugas guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan sumber keteladanan dalam pengembangan kepribadian peserta didik.
Hakikatnya pendidikan guru adalah pembentukan kepribadian disamping penguasaan materi ajar. Pola pendidikan guru juga masih terisolasi dengan sub-sistem manajemen lainnya seperti rekrutmen, penempatan, mutasi, promosi, penggajian, dan pembinaan profesi. Akibatnya jumlah calon guru yang dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak terkait dengan kondisi kebutuhan lapangan. Baik kuantitas, kualitas, maupun kesepadannya dengan kebutuhan nyata.
Tantangan LPTK
Untuk mempersiapkan pendidik profesional masa depan, telah dikeluarkan Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru. Dalam Permenristekdikti ditegaskan, model pendidikan guru dilaksanakan dalam bentuk Program Sarjana Pendidikan dan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pendidikan guru bersifat nasional agar dapat menghasilkan guru yang profesional, nasionalis dan memiliki wawasan global sesuai dengan kebutuhan nasional, lokal, dan perkembangan Iptek.
Untuk menyelenggarakan Program Sarjana Pendidikan tentu tidak mengalami permasalahan. Karena semua LPTK yang telah mendapat izin Kemenristekdikti berhak sebagai penyelenggara. Tetapi untuk Program PPG hanya akan diselenggarakan LPTK yang ditetapkan menteri. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah LPTK di Indonesia sekitar 415 baik negeri maupun swasta. Jumlah tersebut terdiri atas 12 LPTK eks IKIP Negeri, 24 FKIP negeri, 1 FKIP Universitas Terbuka, dan 377 LPTK Swasta. Dapat dibayangkan kalau jumlah LPTK yang ditetapkan menjadi penyelenggara PPG terbatas, maka akan menimbulkan permasalahan nasional di negeri ini.
Tantangannya adalah tidak semua LPTK terutama swasta, dapat ditugasi sebagai penyelenggara program PPG. Tantangan lain bagi LPTK Swasta, ke depan penerimaan mahasiswa baru Program Sarjana Pendidikan dan Program PPG dilaksanakan melalui sistem penerimaan mahasiswa baru yang bersifat nasional untuk seleksi kemampuan akademik, meskipun seleksi bakat, minat, kepribadian, dan kesamaptaan dilakukan oleh LPTK. Untuk menjamin mutu penyelenggaraannya, LPTK harus memenuhi Standar Program Sarjana Pendidikan dan Program PPG, sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan, ditambah dengan standar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Skripsi
Model pembelajaran Program Sarjana Pendidikan di antaranya berupa praktikum, yaitu Pembelajaran Mikro untuk melatih keterampilan mengajar dan praktik lapangan dalam bentuk Praktik Lapangan Persekolahan (PLP), berupa proses observasi dan pemagangan pembelajaran di sekolah. Sedangkan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), yaitu kegiatan mempraktikkan kemampuan dalam pembelajaran baru dilaksanakan pada Program PPG.
Kegiatan pembelajaran Program Sarjana Pendidikan diakhiri dengan ujian hasil penyusunan deskripsi saintifik berbentuk skripsi, laporan tugas akhir, atau karya ilmiah yang setara. Untuk kegiatan Program PPG, diakhiri dengan uji kompetensi yang diselenggarakan panitia nasional, terdiri ujian tulis dan ujian kinerja. Peserta Program PPG yang lulus penilaian proses dan produk pengembangan perangkat pembelajaran, proses dan produk PPL, uji kompetensi, dan penilaian kehidupan berasrama, memperoleh sertifikat pendidik yang berlaku secara nasional.
Dengan adanya model pendidikan guru seperti di atas, LPTK perlu segera menyesuaikan diri dalam waktu dua tahun sejak Permenristekdikti tersebut diundangkan. Sehingga dapat menghasilkan guru yang berkualitas dan profesional. Yang mampu mengantarkan peserta-didik yang cerdas, kritis, kreatif, inovatif, berkarakter Indonesia, dan siap memasuki tahun emas 2045. Dirgahayu HUT ke-72 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2017.
(Prof Dr Buchory MS MPd. Pengurus Pusat Asosiasi LPTK Swasta Indonesia (ALPTKSI), Pengurus PGRI DIY dan Guru Besar UPY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 22 November 2017)
Guru (Mestinya) Mencintai Keberagaman (St Kartono)
”Pendidikan adalah tindakan pendidik itu sendiri.” -- Prof Driyarkara, SJ
JAMAK dilakukan para guru adalah menyiapkan materi pembelajaran. Namun, menyiapkan diri untuk berdiri di depan kelas adalah upaya yang tiada henti sepanjang hayat. Kalimat Driyarkara di awal paparan ini menunjuk bahwa pendidikan memuat juga keteladanan guru, dalam tingkah laku, berbicara, dan berpikir. Kegundahan mutakhir penulis sebagai guru membuncah ketika menelisik akun media sosial milik para guru.
Tidak sedikit guru yang dengan sengaja membagikan tautan berita, gambar, atau paparan yang isinya justru mencerminkan cara pikir yang kurang bijak. Membagikan informasi yang tidak utuh dan tidak berimbang adalah cermin pola pikir yang tidak terbuka. Demi pengaruh yang dihadirkan kepada murid, baik kiranya para guru melakukan otokritik dan menyadari kembali bahwa penghargaan akan keberagaman mesti diajarkan.
Keberagaman di Kelas
Sejak hari pertama hadir di kelas, guru berhadapan dengan keberagaman. Murid hadir berasal dari berbagai latar belakang keluarga, daya paham akan materi pelajaran, bahkan tingkahpolah yang tidak seragam di kelas. Sekolah yang mengumpulkan murid-murid pintar pun tetap memunculkan berbagai pembeda latar belakang ekonomi orang tuanya, keberagaman agama, dan kebiasaan belajar di kelas. Pun para murid di kelas memiliki beragam kecerdasan bawaan.
Persepsi terhadap keberagaman murid akan menentukan perlakuan guru. Perlakuan ini konkret ketika berinteraksi dalam pelajaran di kelas. Neila Ramdhani (2013) menyebut tiga hal yang mempengaruhi persepsi guru terhadap murid, di antaranya kepribadian guru, suasana hati guru sesaat, dan masa lalu guru. Guru yang rasis tentu akan diskriminatif terhadap muridnya. Mereka yang biasa menyebar tautan di media sosial mengenai berita yang tidak berimbang, bisa jadi sebagai guru juga tidak utuh sebagai pribadi. Para murid pun merasakan perlakuan guru yang tidak menyukainya.
Masa lalu guru pun mempengaruhi persepsi terhadap muridnya. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kekerasanpun, jika tidak berkesempatan mengolah diri, tentu akan menghadirkan kekerasan di ruang-ruang kelas. Pengalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu akan dilampiaskan kepada murid. Guru akan memperlakukan murid dengan cara yang sama, bahkan murid akan menjadi sasaran kejengkelan. Rasa rendah diri karena latar belakang guru di masa lalu juga mempengaruhi cara memperlakukan murid, murid sebagai ancaman atau kawan.
Di sisi lain, keberagaman penampilan murid dan status sosial ekonomipun mempengaruhi persepsi guru. Berdasarkan penelitian (2013), guru yang menghadapi murid berpenampilan bersih dan cantik juga mempersepsi baik, sehingga hasil belajar murid pun baik. Sebaliknya persepsi buruk terhadap penampilan kurang rapi dan kotor akan berlanjut pada perlakuan yang kurang baik juga.
Keberagaman Zaman Kini
Fasilitas teknologi yang dinikmati anak-anak kita di zaman kini akan memungkinkan mereka memperoleh informasi lebih lengkap daripada gurunya. Para murid akan dihadapkan pada berbagai pilihan informasi yang harus diuji dulu kebenarannya. Membantu murid untuk terusmenerus berpikir terbuka dan menguji informasi dari berbagai sumber adalah upaya menumbuhkan penghargaan pada keberagaman.
Situasi sebaliknya dapat terjadi, para murid yang kritis karena informasinya lebih lengkap justru dimatikan oleh guru yang masih menganggap dirinya sebagai satu-satunya ‘kebenaran’. Murid-murid yang tertindas oleh pola pikir guru ‘pokoknya’ akan mendapatkan contoh buruk dari guru yang antikeberagaman. Jika demikian, tidak berlebihan Driyarkara menyebut bahwa pendidikan itu tindakan pendidik itu sendiri. Pola pikir antikeberagaman pada orangorang muda dan anak-anak kita, jangan-jangan hasil pendidikan yang mencontoh guru-gurunya yang tidak kunjung mau membuka pikiran dengan situasi zaman yang pesat informasi?
Dalam konteks negeri ini yang rindu cinta kebinekaan dan sedang gandrung menghargai keberagaman, kiranya gurulah yang dapat berperan penting untuk mewujudkannya. Penghargaan akan kebinekaan di masyarakat konkret harus dimulai dari kecintaan guru akan keberagaman di kelas, kepada murid-murid dalam keseharian. Memahami bahwa murid berbeda satu dengan lainnya, dalam hal apa pun, itulah obor penuntun guru ketika masuk kelas. Bersyukur dan menerima keberagaman murid akan menumbuhkan perasaan positif. Untuk rekanrekan guru, selamat mendidik dengan penuh cinta.
(St Kartono. Guru SMA Kolese De Britto Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 25 November 2017)
JAMAK dilakukan para guru adalah menyiapkan materi pembelajaran. Namun, menyiapkan diri untuk berdiri di depan kelas adalah upaya yang tiada henti sepanjang hayat. Kalimat Driyarkara di awal paparan ini menunjuk bahwa pendidikan memuat juga keteladanan guru, dalam tingkah laku, berbicara, dan berpikir. Kegundahan mutakhir penulis sebagai guru membuncah ketika menelisik akun media sosial milik para guru.
Tidak sedikit guru yang dengan sengaja membagikan tautan berita, gambar, atau paparan yang isinya justru mencerminkan cara pikir yang kurang bijak. Membagikan informasi yang tidak utuh dan tidak berimbang adalah cermin pola pikir yang tidak terbuka. Demi pengaruh yang dihadirkan kepada murid, baik kiranya para guru melakukan otokritik dan menyadari kembali bahwa penghargaan akan keberagaman mesti diajarkan.
Keberagaman di Kelas
Sejak hari pertama hadir di kelas, guru berhadapan dengan keberagaman. Murid hadir berasal dari berbagai latar belakang keluarga, daya paham akan materi pelajaran, bahkan tingkahpolah yang tidak seragam di kelas. Sekolah yang mengumpulkan murid-murid pintar pun tetap memunculkan berbagai pembeda latar belakang ekonomi orang tuanya, keberagaman agama, dan kebiasaan belajar di kelas. Pun para murid di kelas memiliki beragam kecerdasan bawaan.
Persepsi terhadap keberagaman murid akan menentukan perlakuan guru. Perlakuan ini konkret ketika berinteraksi dalam pelajaran di kelas. Neila Ramdhani (2013) menyebut tiga hal yang mempengaruhi persepsi guru terhadap murid, di antaranya kepribadian guru, suasana hati guru sesaat, dan masa lalu guru. Guru yang rasis tentu akan diskriminatif terhadap muridnya. Mereka yang biasa menyebar tautan di media sosial mengenai berita yang tidak berimbang, bisa jadi sebagai guru juga tidak utuh sebagai pribadi. Para murid pun merasakan perlakuan guru yang tidak menyukainya.
Masa lalu guru pun mempengaruhi persepsi terhadap muridnya. Mereka yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kekerasanpun, jika tidak berkesempatan mengolah diri, tentu akan menghadirkan kekerasan di ruang-ruang kelas. Pengalaman yang tidak mengenakkan di masa lalu akan dilampiaskan kepada murid. Guru akan memperlakukan murid dengan cara yang sama, bahkan murid akan menjadi sasaran kejengkelan. Rasa rendah diri karena latar belakang guru di masa lalu juga mempengaruhi cara memperlakukan murid, murid sebagai ancaman atau kawan.
Di sisi lain, keberagaman penampilan murid dan status sosial ekonomipun mempengaruhi persepsi guru. Berdasarkan penelitian (2013), guru yang menghadapi murid berpenampilan bersih dan cantik juga mempersepsi baik, sehingga hasil belajar murid pun baik. Sebaliknya persepsi buruk terhadap penampilan kurang rapi dan kotor akan berlanjut pada perlakuan yang kurang baik juga.
Keberagaman Zaman Kini
Fasilitas teknologi yang dinikmati anak-anak kita di zaman kini akan memungkinkan mereka memperoleh informasi lebih lengkap daripada gurunya. Para murid akan dihadapkan pada berbagai pilihan informasi yang harus diuji dulu kebenarannya. Membantu murid untuk terusmenerus berpikir terbuka dan menguji informasi dari berbagai sumber adalah upaya menumbuhkan penghargaan pada keberagaman.
Situasi sebaliknya dapat terjadi, para murid yang kritis karena informasinya lebih lengkap justru dimatikan oleh guru yang masih menganggap dirinya sebagai satu-satunya ‘kebenaran’. Murid-murid yang tertindas oleh pola pikir guru ‘pokoknya’ akan mendapatkan contoh buruk dari guru yang antikeberagaman. Jika demikian, tidak berlebihan Driyarkara menyebut bahwa pendidikan itu tindakan pendidik itu sendiri. Pola pikir antikeberagaman pada orangorang muda dan anak-anak kita, jangan-jangan hasil pendidikan yang mencontoh guru-gurunya yang tidak kunjung mau membuka pikiran dengan situasi zaman yang pesat informasi?
Dalam konteks negeri ini yang rindu cinta kebinekaan dan sedang gandrung menghargai keberagaman, kiranya gurulah yang dapat berperan penting untuk mewujudkannya. Penghargaan akan kebinekaan di masyarakat konkret harus dimulai dari kecintaan guru akan keberagaman di kelas, kepada murid-murid dalam keseharian. Memahami bahwa murid berbeda satu dengan lainnya, dalam hal apa pun, itulah obor penuntun guru ketika masuk kelas. Bersyukur dan menerima keberagaman murid akan menumbuhkan perasaan positif. Untuk rekanrekan guru, selamat mendidik dengan penuh cinta.
(St Kartono. Guru SMA Kolese De Britto Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 25 November 2017)
Siapa Guru Jawa yang Berkualitas? (Heri Priyatmoko MA)
TERMANGGUT-manggut menyimak esai Agus Iswanto berkepala ‘Guru Berkualitas Menurut Sastra Jawa’ (KR, 24/11). Agus membeberkan model guru idola dan jempolan sesuai pitutur yang tersekam dalam beberapa serat kuno. Serat Makutharaja yang menjadi koleksi Kraton Yogyakarta, misalnya, ditafsirkan guru kudu dilambari ketulusan hati (kajog) dalam mendidik, tidak sombong (sudapraya) dan mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup di bidangnya (agnya namandra).
Sayangnya, Agus tidak mengetengahkan contoh tokoh guru berkualitas untuk dapat dipelajari dan diambil keteladanan. Esai ini hendak membincangkan seorang guru Jawa sekaligus sastrawan terkemuka yang punya peran penting dalam jagad pendidikan kita.
‘Angka Siji’
Lelaki ini kelahiran Klaten. Tugasnya tak berhenti di kelas, mengawani peserta didik mencecap ilmu. Dari jemarinya, menetes belasan buku yang digandrungi banyak orang periode 1915-1943. Ia dinyatakan sebagai pengarang sastra Jawa dari zaman Balai Pustaka yang produktif. Pria ini bernama Raden Tumenggung Yasawidagda (1885-1958).
Memulai debut sebagai guru di sekolah angka siji di Solo tahun 1906. Kinerjanya bagus dilirik pemerintah Belanda, lantas diminta memegang sekolah di Kendal, dan dioper ke Ngawi sebagai mantri guru. Kedigdayaannya sebagai pendidik dan ‘tukang angon’ bocah diuji ketika diminta bergabung membesarkan Algemmene Middelbare School di Solo (1925-1932). Institusi pendidikan setingkat sekolah menengah atas ini bak besi sembrani dan laris. Pada era 1926, tercatat sekolahan ini sudah memperoleh murid lebih dari 100 orang. Mereka berasal dari Ambon, Batak, Padang, Aceh, Betawi, Priyangan, Madura, Sumatra, Bali, dan Jawa bagian tengah, serta kelompok Tionghoa dan Belanda. Sekolah yang mengembangkan bidang sastra Timur ini dinahkodai pakar sejarah Indonesia kuno, Dr Stutterheim.
Karena banyak siswa dari tanah sabrang, dibuatkan asrama. Merujuk Gouvernementbesluit 28 Juni 1926 No 30, Yasawidagda ditunjuk memegang internaat Hapsara yang dibuka Juli 1926. Umumnya, asrama dipimpin orang Belanda bergaji f 300-350 perbulan. Uniknya, asrama AMS ini justru dipegang Yasawidagda yang notabene orang Jawa. Pertimbangannya, ia dianggap bisa mendampingi siswa belajar adat, tata cara dan Bahasa Jawa.
Dalam Serat Pengetan Gesangipun Yasawidhagdga (1950) dikabarkan, aktivitas dan pola hidup penghuni pondokan diatur rapi di bawah asuhan Yasawidagda. Sepulang sekolah, pukul 16.00 WIB mereka leluasa memainkan musik keroncong. Kemudian pukul 17.00-19.00 WIB boleh bermain ke luar asrama. Waktu belajar pukul 19.00-20.00 WIB, dan disusul santap malam sampai pukul 21.00. Setelah itu, penghuni asrama dipersilakan istirahat, entah tidur maupun belajar. Saban Sabtu, penghuni makan enak sembari belajar rupa-rupa cara bersantap seperti idheran (pelayan keliling), prasmanan, pesta, dan cara Jawa. Mempelajari aneka model makan tersebut, dengan harapan mereka tidak memalukan atau mengecewakan jika kelak menjadi tokoh atau orang penting.
Sastra Timur
Selain menghasilkan buku, Yasawidagda rutin menyerot tulisan ke koran. Kedisiplinan, ketekunan, dan keseriusan Yasawidagda dalam berkarya maupun mengajar diikuti para muridnya. Demikian pula penghargaan dan penghormatan kepada ‘harta’ leluhur Bangsa Indonesia, yakni sastra timur. Perilaku yang bagus dan konsisten mengembangkan dunia keilmuan demi kemajuan bangsa yang diperbuat Yasawidagda bersama dwija lainnya juga dilakukan peserta didik meski sudah mentas dari AMS. Siswa seharihari dapat melihat sikap asketisme yang dipraktikkan guru, kecerdasan intelektual dan spiritual makin tumbuh subur dalam diri pengajar.
Di bawah asuhan guru berkualitas ini, tak ayal AMS Solo berhasil mencetak murid yang jempolan. Di antaranya Muhammad Yamin (kelak menjadi sastrawan dan Menteri Kehakiman, serta Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan era Sukarno), Armijn Pane (sastrawan), Amir Hamzah (sastrawan), Achdiat Karta Mihardja (sastrawan), Tjan Tjoe Siem (pakar sastra Jawa yang juga Guru Besar Universitas Indonesia), R Prijono (pendiri Universitas Gadjah Mada dan Menteri Pendidikan era Sukarno), Amin Soedoro dan RL Soekardi (keduanya pegawai Dinas Purbakala periode revolusi).
Ya, terbukti keampuhan Guru Jawa ini dalam memberikan kecakapan, ketrampilan sangat bermanfaat bagi murid sebagai bekal dalam fase kehidupannya di kemudian hari. Siapa lagi yang mau mengikuti jejak Yasawidagda?
(Heri Priyatmoko MA. Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 29 November 2017)
Guru Berkualitas Menurut Sastra Jawa (Agus Iswanto)
SEBUAH dialog budaya yang bertemakan
‘Pembangunan Karakter sebagai Basis Keistimewaan DIY,’ menghasilkan
kesimpulan bahwa pendidikan karakter sebaiknya berbasis budaya. Lebih
lanjut dikatakan bahwa pendidikan yang berbasiskan budaya mampu mengolah
cipta, rasa dan karsa anak. Pendidikan karakter berbasis budaya
Yogyakarta dapat mengambil nilai-nilai dari Kraton Yogyakarta, Pura
Pakualaman bahkan dari Tamansiswa (Kedaulatan Rakyat, 17/7).
Berita ini penting disimak menyambut Hari Guru Nasional, 25 November besok. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah : apakah para guru sudah mengambil dan menerapkan nilai adiluhung dari ketiga tempat pusat kebudayaan tersebut? Apakah guru-guru sudah meneladani nilai-nilai pendidikan yang sejatinya ada di dalam berbagai warisan budaya yang ada, baik yang berupa warisan tertulis, lisan maupun artefak arkeologis?
Pertanyaan diajukan kepada guru lebih karena guru menjadi kunci dari pembaharuan sistem pendidikan nasional (Tilaar, 2015: 206). Artinya kualitas guru menjadi kunci keberhasilan sistem pendidikan. Dalam budaya Indonesia, guru dipahami sebagai guru, pandita, ratu, wongatuakaro. Dari sini saja guru dalam Budaya Jawa bahkan Indonesia umumnya, juga dipandang sebagai seorang pemimpin dalam masyarakat. Guru dalam budaya Jawa adalah ingkang karsa angrancang kapti (orang yang hendak menempuh cita-cita besar).
Guru Berkualitas
Khazanah budaya Jawa kaya akan warisan tertulis yang berisi ajaran luhur sebagai bekal masyarakat dalam menjalani kehidupannya. Warisan tertulis dalam budaya yang berisi ajaran luhur tersebut lazim disebut sastra wulang (pitutur luhur atau nasihat mulia, wuruk atau pelajaran). Biasanya tujuan dalam pemberian nasihat ini disampaikan secara tersirat dalam teks, meskipun ada juga yang tersurat.
Dalam sastra wulang atau piwulang itulah banyak terdapat ajaran, nilai-nilai atau konsepkonsep pendidikan, yang masih sangat relevan untuk masa sekarang. Hal ini penting dikemukakan sebab masih sangat dominan konsepkonsep pendidikan yang diajarkan tidak bersumber pada budaya setempat, akhirnya konsep pendidikan tersebut kehilangan konteksnya.
Terkait konsep guru berkualitas misalnya, ‘Serat Makutharaja’, yang menjadi koleksi Kraton Yogyakarta mengilustrasikan pemimpin dan guru sebagai seorang penunggang kuda. Disebutkan bahwa, seorang penunggang kuda dalam memegang tali kekang dan mengendalikan kudanya harus memiliki tiga syarat, yakni: kajog (ketulusan), sudapraya (mengurangi kesombongan), dan agnya namandra (akal yang berlebih). Jadi seorang guru, menurut sastra wulang ini harus memiliki ketulusan hati dalam mendidik, tidak sombong dan mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup di bidangnya.
Menurut sastra wulang yang lain, misalnya ‘Sastra Ageng Adidarma’ yang menjadi milik Pura Pakualaman, disebutkan bahwa seseorang harus terus belajar, baik dari pengalaman maupun bacaan. Ini dilakukan agar manusia terhindar dari semua halangan dan rintangan di dalam kehidupan yang dijalani (Saktimulya, 2016: 104).
Memang tampaknya pesan dari ‘Sastra Ageng Adidarma’ditujukan untuk umum. Tetapi, dalam konteks ini, karena guru adalah kunci pendidikan, maka guru orang pertama yang harus mencontohkan untuk senantiasa belajar dengan cara membaca buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan maupun membaca pengalaman. Yakni mengamati perilaku anak didiknya agar dapat mendidik dengan cara yang tepat.
Dalam ‘Kakiyasaning Pangrecutan’ anggitan dalem Sultan Agung koleksi Kraton Yogyakarta disebutkan juga beberapa ciri guru berkualitas, yakni: nastiti (ajarannya tidak kacau), nastapa (guru harus punya keberanian dalam amal zuhud), kulina (berani terhadap semua perbuatan benar), diwasa (dewasa dalam berpikir, bertindak dan berbuat), santosa (berwatak teguh, lurus dan kuat), engetan (cerdas pikirannya, tidak ragu mengamalkan ilmu, tidak pelupa), santika (tidak cacat secara mental maupun fisik), dan lana (berpendirian teguh, tidak ingkar janji dan luas pengetahuannya) (Muslich KS, 2006: 37).
Kecuali itu semua, banyak sumber budaya yang bisa dijadikan inspirasi dalam menghasilkan kualitas guru dan pendidikan yang lebih baik. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah mempraktikannya. Sebab menurut ‘Serat Wulangreh’ karya Pakubuwana IV, ilmu kelakone kanthi laku (ilmu terwujudnya dengan perbuatan).
(Agus Iswanto. Peneliti pada Balai Litbang Agama Semarang; Anggota Pengurus Pusat Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 November 2017)
Berita ini penting disimak menyambut Hari Guru Nasional, 25 November besok. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah : apakah para guru sudah mengambil dan menerapkan nilai adiluhung dari ketiga tempat pusat kebudayaan tersebut? Apakah guru-guru sudah meneladani nilai-nilai pendidikan yang sejatinya ada di dalam berbagai warisan budaya yang ada, baik yang berupa warisan tertulis, lisan maupun artefak arkeologis?
Pertanyaan diajukan kepada guru lebih karena guru menjadi kunci dari pembaharuan sistem pendidikan nasional (Tilaar, 2015: 206). Artinya kualitas guru menjadi kunci keberhasilan sistem pendidikan. Dalam budaya Indonesia, guru dipahami sebagai guru, pandita, ratu, wongatuakaro. Dari sini saja guru dalam Budaya Jawa bahkan Indonesia umumnya, juga dipandang sebagai seorang pemimpin dalam masyarakat. Guru dalam budaya Jawa adalah ingkang karsa angrancang kapti (orang yang hendak menempuh cita-cita besar).
Guru Berkualitas
Khazanah budaya Jawa kaya akan warisan tertulis yang berisi ajaran luhur sebagai bekal masyarakat dalam menjalani kehidupannya. Warisan tertulis dalam budaya yang berisi ajaran luhur tersebut lazim disebut sastra wulang (pitutur luhur atau nasihat mulia, wuruk atau pelajaran). Biasanya tujuan dalam pemberian nasihat ini disampaikan secara tersirat dalam teks, meskipun ada juga yang tersurat.
Dalam sastra wulang atau piwulang itulah banyak terdapat ajaran, nilai-nilai atau konsepkonsep pendidikan, yang masih sangat relevan untuk masa sekarang. Hal ini penting dikemukakan sebab masih sangat dominan konsepkonsep pendidikan yang diajarkan tidak bersumber pada budaya setempat, akhirnya konsep pendidikan tersebut kehilangan konteksnya.
Terkait konsep guru berkualitas misalnya, ‘Serat Makutharaja’, yang menjadi koleksi Kraton Yogyakarta mengilustrasikan pemimpin dan guru sebagai seorang penunggang kuda. Disebutkan bahwa, seorang penunggang kuda dalam memegang tali kekang dan mengendalikan kudanya harus memiliki tiga syarat, yakni: kajog (ketulusan), sudapraya (mengurangi kesombongan), dan agnya namandra (akal yang berlebih). Jadi seorang guru, menurut sastra wulang ini harus memiliki ketulusan hati dalam mendidik, tidak sombong dan mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup di bidangnya.
Menurut sastra wulang yang lain, misalnya ‘Sastra Ageng Adidarma’ yang menjadi milik Pura Pakualaman, disebutkan bahwa seseorang harus terus belajar, baik dari pengalaman maupun bacaan. Ini dilakukan agar manusia terhindar dari semua halangan dan rintangan di dalam kehidupan yang dijalani (Saktimulya, 2016: 104).
Memang tampaknya pesan dari ‘Sastra Ageng Adidarma’ditujukan untuk umum. Tetapi, dalam konteks ini, karena guru adalah kunci pendidikan, maka guru orang pertama yang harus mencontohkan untuk senantiasa belajar dengan cara membaca buku-buku yang berisi ilmu pengetahuan maupun membaca pengalaman. Yakni mengamati perilaku anak didiknya agar dapat mendidik dengan cara yang tepat.
Dalam ‘Kakiyasaning Pangrecutan’ anggitan dalem Sultan Agung koleksi Kraton Yogyakarta disebutkan juga beberapa ciri guru berkualitas, yakni: nastiti (ajarannya tidak kacau), nastapa (guru harus punya keberanian dalam amal zuhud), kulina (berani terhadap semua perbuatan benar), diwasa (dewasa dalam berpikir, bertindak dan berbuat), santosa (berwatak teguh, lurus dan kuat), engetan (cerdas pikirannya, tidak ragu mengamalkan ilmu, tidak pelupa), santika (tidak cacat secara mental maupun fisik), dan lana (berpendirian teguh, tidak ingkar janji dan luas pengetahuannya) (Muslich KS, 2006: 37).
Kecuali itu semua, banyak sumber budaya yang bisa dijadikan inspirasi dalam menghasilkan kualitas guru dan pendidikan yang lebih baik. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah mempraktikannya. Sebab menurut ‘Serat Wulangreh’ karya Pakubuwana IV, ilmu kelakone kanthi laku (ilmu terwujudnya dengan perbuatan).
(Agus Iswanto. Peneliti pada Balai Litbang Agama Semarang; Anggota Pengurus Pusat Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 November 2017)
Kamis, 07 Desember 2017
Pendidikan Politik dan Militansi (Khairil Azhar)
MILITANSI tak mesti selalu dimaknai bertubuh dan berwajah jahat.
Ada militansi yang tidak bersandar pada kekerasan, perang atau terorisme.
Kelompok Militan Trotsky, umpamanya, yang lahir di Inggris pada 1935, menganut prinsip nirkekerasan.
Mereka menerbitkan surat kabar, dan datang dengan resolusi dalam rapat-rapat politik.
Militansi memang kata yang menandakan semangat menggelegak dan laku ekstrem dalam mencapai tujuan.
Militansi bisa menjadi hulu dari tindakan politik konfrontatif dan agresif.
Berasal dari kata Latin abad ke-15 'militare', militansi berarti kesetiaan 'mengabdi layaknya seorang tentara".
Ketika sejarah cenderung diwarnai berbagai wajah buruk militansi, penggiat demokrasi juga akrab dengan apa yang disebut sebagai demokrasi militan.
Militansi diperlukan karena demokrasi tak begitu saja menjamin warga sebuah negara menikmati keadilan.
Demokrasi militan atau militansi berdemokrasi ialah tameng.
Ia penting terutama karena dimungkinkannya kelompok-kelompok yang sejatinya antidemokrasi mengembangkan diri, yang ketika sudah kuat bisa merebut kekuasaan dengan cara-cara demokratis.
Militansi, oleh karena itu, selain untuk menjaga keberlangsungan praktik demokrasi, diperlukan untuk memastikan pembaruan konseptual terus-menerus.
Dalam politik praktis, parpol juga dengan berbagai cara mencari dan mendidik kader-kader militan.
Militansi, diukur dengan loyalitas, kerja keras, bahkan kepatuhan.
Alasan utama, supaya mesin-mesin partai bergerak dan kekuasaan dalam genggaman.
Ketika militansi dibutuhkan dalam menegakkan dan mengurus demokrasi, bagaimanakah ia bisa dibangun dan dikembangkan? Jika pilihannya ialah sebuah pendidikan politik, bangunan konsep seperti apa yang patut dan layak dan pedagogi macam apa yang bisa menjamin, militansi tidak menjadi racun bagi demokrasi?
Control belief dan indoktrinasi
Militansi dalam konteks politik pertama-tama bersifat ideologis. Kelompok militan Trotskian di Inggris, sebagai contoh, memperjuangkan 'demokrasi' sosialis.
Para militan Ikhwan al-Muslimin, baik di Mesir maupun dalam berbagai bentuk metamorfosisnya di belahan dunia lain, bersandar pada tafsir politikal atas Islam.
Singkat kata, sebagai wujud dari kesediaan berpikir dan berlaku penuh semangat dan ekstrem, militansi bermula dari keyakinan yang menubuh.
Militansi berhulu pada keimanan terhadap gagasan yang dipercaya sebagai kebenaran.
Jika belajar dari kasus-kasus radikalisme dan terorisme, iman yang berlumur kebencian umumnya ialah hasil 'implantasi' ideologis.
Dalam proses yang disebut sebagai indoktrinasi ini, Charlene Tan (2011) mencatat bahwa keyakinan yang ditanamkan biasanya berbentuk ideologi totalistik, yakni konsepsi kebenaran tunggal dan menyeluruh yang mendasari pikiran, sikap, dan perilaku.
Iman ini, pertama-tama, secara sempit membatasi wawasan berpikir dalam rentang 'kita' dan 'yang lain', 'kami' dan 'mereka'.
Indoktrinasi yang dilakukan mengandaikan 'yang lain' itu salah, tidak patut, dan perlu ditundukkan, dijinakkan, atau diberangus.
Toleransi atau demokrasi, jika tak ada pilihan lain, ialah alat merebut kuasa.
Ketika ikatan emosional terkuat dengan pemimpin sesama anggota kelompok, kebencian, dan permusuhan memusat pada siapa pun yang ditengarai sebagai 'yang lain' itu.
Dalam rangka mempertahankan keyakinan yang sempit, tindakan-tindakan sosial maupun politikal digerakkan pikiran dan sikap yang destruktif.
Meskipun bisa saja berwajah lebih lunak, atau indoktrinasi dilakukan sebagai cara untuk mengimplantasi konten-konten demokrasi, indoktrinasi, sejatinya ialah praktik pendidikan dengan pembatasan dan keterbatasan.
Praktik indoktrinasi menunjukkan bahwa kebenaran sering kali terbatas pada kata-kata pemimpin atau ideologi yang tertulis dalam-teks-teks yang disakralkan.
Peluang untuk berbeda, atau bahkan sekadar untuk menafsir, sebisa mungkin tidak diperkenankan.
Indoktrinasi, oleh karena itu, berlawanan dengan demokrasi.
Sebagai alat dan cara pendidikan, ia tak bisa dikatakan demokratis.
Ketika demokrasi mengandaikan kesetaraan, indoktrinasi menghendaki kepatuhan mutlak yang memasung akal sehat. Kalaupun dipergunakan, rasionalitas secara terbatas hanya untuk membenarkan, mewujudkan, dan membela ideologi.
Militansi dan sivistys
Meskipun mungkin tak terlihat gagah dan instan, terutama di mata ideolog atau demagog, pendidikan politik yang tepat dan wajar tetaplah yang bertumpu pada demokrasi, akal sehat, dan kemanusiaan.
Jika militansi diandaikan bersandar pada adanya control beliefs, pendidikan politik yang demokratis bisa mengambil nilai-nilai moral, baik yang berlaku lokal maupun universal.
Dalam hal ini, ada baiknya jika kita sedikit belajar dari Finlandia.
Di negara yang menerapkan wajib militer ini, ada konsep yang disebut sivistys, tafsir atas konsep Jerman 'Bildung', yang secara harfiah berarti pembentukan atau pembangunan.
Pendidikan, dalam konsep ini, adalah proses pembentukan diri secara utuh, di mana pengetahuan, sikap, dan perilaku dibangun dalam konteks kehidupan sosiokultural.
Pendidikan hanya mungkin jika mengandaikan kemutlakan rasionalitas dan demokrasi.
Pertama-tama, pendidikan adalah proses belajar bertujuan setiap warga negara bisa masuk dan berinteraksi wajar dalam konteks kultural. Proses ini utamanya difasilitasi lembaga-lembaga pendidikan formal.
Namun, ketika pendidikan diyakini sebagai dialektika tanpa henti, proses 'menjadi' individu tidak berhenti pada keterterimaan secara sosio-kultural.
Proses belajar dan kegiatan-kegiatan kependidikan mesti membuat individu mampu bertransendensi, berkembang melampaui kriteria minimal yang ditetapkan kurikulum.
Pada tahap akhir, sivistys mensyaratkan terbangunnya semacam militansi sosial, yakni ketika berkembangnya kompetensi individu untuk memberi pengaruh kehidupan publik.
Secara bermartabat dan ilmiah, tahap ini mengandaikan kapasitas individu yang sanggup berpartisipasi bagi perkembangan kultural, kesejahteraan publik, dan politik.
Militansi dalam sivistys, bisa disimpulkan, ialah konsekuensi logis dari proses pendidikan, formal maupun sosial.
Militansi adalah produk dari dialektika berbasis akal sehat antara individu dan lingkungan sosial, apa yang dipelajari, dan aktivitas kehidupan.
Jika dibandingkan dengan indoktrinasi, sivistys lebih dekat dengan fakta pendidikan politik yang berkembang di negara maju saat ini.
Militansi sosial dan berdemokrasi tumbuh bukan karena kepatuhan pada doktrin politik.
Sebaliknya, prinsip demokrasi dipahami, diterima, dan dikelola menggunakan rasionalitas karena pendidikan.
Ini juga menjelaskan kenapa hasil indoktrinasi dengan mudah bisa mengalami kedaluwarsa, yakni ketika terjadi disengagement antara individu dengan ideologi totalistik yang diindoktrinasikan.
Militansi tanpa rasionalitas perlu motivasi eksternal terus-menerus, dengan insentif atau tindakan koersif.
Itu mungkin sebabnya, seperti di Finlandia atau negara maju lainnya, para politikus 'terpaksa' secara militan mengumpulkan dana dari masyarakat untuk membiayai kerja-kerja politiknya.
Pendidikan politik yang sehat mengantarkan mereka pada kesadaran bahwa politisi bekerja melayani rakyat dan harus dibiayai rakyat.
Sebagai catatan, ini boleh jadi tidak 'seksi' bagi banyak politisi di RI, apalagi bagi demagog yang berharap kultus-individu dan cara cepat meraih kekuasaan.
Namun, kita tahu, pendidikan yang wajar utamanya bersandar proses, bahwa 'Roma tak dibangun dalam satu hari'.
Media Indonesia
Senin, 4 December 2017 12:30 WIB
Penulis: Khairil Azhar Staf Pengajar Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem
Ada militansi yang tidak bersandar pada kekerasan, perang atau terorisme.
Kelompok Militan Trotsky, umpamanya, yang lahir di Inggris pada 1935, menganut prinsip nirkekerasan.
Mereka menerbitkan surat kabar, dan datang dengan resolusi dalam rapat-rapat politik.
Militansi memang kata yang menandakan semangat menggelegak dan laku ekstrem dalam mencapai tujuan.
Militansi bisa menjadi hulu dari tindakan politik konfrontatif dan agresif.
Berasal dari kata Latin abad ke-15 'militare', militansi berarti kesetiaan 'mengabdi layaknya seorang tentara".
Ketika sejarah cenderung diwarnai berbagai wajah buruk militansi, penggiat demokrasi juga akrab dengan apa yang disebut sebagai demokrasi militan.
Militansi diperlukan karena demokrasi tak begitu saja menjamin warga sebuah negara menikmati keadilan.
Demokrasi militan atau militansi berdemokrasi ialah tameng.
Ia penting terutama karena dimungkinkannya kelompok-kelompok yang sejatinya antidemokrasi mengembangkan diri, yang ketika sudah kuat bisa merebut kekuasaan dengan cara-cara demokratis.
Militansi, oleh karena itu, selain untuk menjaga keberlangsungan praktik demokrasi, diperlukan untuk memastikan pembaruan konseptual terus-menerus.
Dalam politik praktis, parpol juga dengan berbagai cara mencari dan mendidik kader-kader militan.
Militansi, diukur dengan loyalitas, kerja keras, bahkan kepatuhan.
Alasan utama, supaya mesin-mesin partai bergerak dan kekuasaan dalam genggaman.
Ketika militansi dibutuhkan dalam menegakkan dan mengurus demokrasi, bagaimanakah ia bisa dibangun dan dikembangkan? Jika pilihannya ialah sebuah pendidikan politik, bangunan konsep seperti apa yang patut dan layak dan pedagogi macam apa yang bisa menjamin, militansi tidak menjadi racun bagi demokrasi?
Control belief dan indoktrinasi
Militansi dalam konteks politik pertama-tama bersifat ideologis. Kelompok militan Trotskian di Inggris, sebagai contoh, memperjuangkan 'demokrasi' sosialis.
Para militan Ikhwan al-Muslimin, baik di Mesir maupun dalam berbagai bentuk metamorfosisnya di belahan dunia lain, bersandar pada tafsir politikal atas Islam.
Singkat kata, sebagai wujud dari kesediaan berpikir dan berlaku penuh semangat dan ekstrem, militansi bermula dari keyakinan yang menubuh.
Militansi berhulu pada keimanan terhadap gagasan yang dipercaya sebagai kebenaran.
Jika belajar dari kasus-kasus radikalisme dan terorisme, iman yang berlumur kebencian umumnya ialah hasil 'implantasi' ideologis.
Dalam proses yang disebut sebagai indoktrinasi ini, Charlene Tan (2011) mencatat bahwa keyakinan yang ditanamkan biasanya berbentuk ideologi totalistik, yakni konsepsi kebenaran tunggal dan menyeluruh yang mendasari pikiran, sikap, dan perilaku.
Iman ini, pertama-tama, secara sempit membatasi wawasan berpikir dalam rentang 'kita' dan 'yang lain', 'kami' dan 'mereka'.
Indoktrinasi yang dilakukan mengandaikan 'yang lain' itu salah, tidak patut, dan perlu ditundukkan, dijinakkan, atau diberangus.
Toleransi atau demokrasi, jika tak ada pilihan lain, ialah alat merebut kuasa.
Ketika ikatan emosional terkuat dengan pemimpin sesama anggota kelompok, kebencian, dan permusuhan memusat pada siapa pun yang ditengarai sebagai 'yang lain' itu.
Dalam rangka mempertahankan keyakinan yang sempit, tindakan-tindakan sosial maupun politikal digerakkan pikiran dan sikap yang destruktif.
Meskipun bisa saja berwajah lebih lunak, atau indoktrinasi dilakukan sebagai cara untuk mengimplantasi konten-konten demokrasi, indoktrinasi, sejatinya ialah praktik pendidikan dengan pembatasan dan keterbatasan.
Praktik indoktrinasi menunjukkan bahwa kebenaran sering kali terbatas pada kata-kata pemimpin atau ideologi yang tertulis dalam-teks-teks yang disakralkan.
Peluang untuk berbeda, atau bahkan sekadar untuk menafsir, sebisa mungkin tidak diperkenankan.
Indoktrinasi, oleh karena itu, berlawanan dengan demokrasi.
Sebagai alat dan cara pendidikan, ia tak bisa dikatakan demokratis.
Ketika demokrasi mengandaikan kesetaraan, indoktrinasi menghendaki kepatuhan mutlak yang memasung akal sehat. Kalaupun dipergunakan, rasionalitas secara terbatas hanya untuk membenarkan, mewujudkan, dan membela ideologi.
Militansi dan sivistys
Meskipun mungkin tak terlihat gagah dan instan, terutama di mata ideolog atau demagog, pendidikan politik yang tepat dan wajar tetaplah yang bertumpu pada demokrasi, akal sehat, dan kemanusiaan.
Jika militansi diandaikan bersandar pada adanya control beliefs, pendidikan politik yang demokratis bisa mengambil nilai-nilai moral, baik yang berlaku lokal maupun universal.
Dalam hal ini, ada baiknya jika kita sedikit belajar dari Finlandia.
Di negara yang menerapkan wajib militer ini, ada konsep yang disebut sivistys, tafsir atas konsep Jerman 'Bildung', yang secara harfiah berarti pembentukan atau pembangunan.
Pendidikan, dalam konsep ini, adalah proses pembentukan diri secara utuh, di mana pengetahuan, sikap, dan perilaku dibangun dalam konteks kehidupan sosiokultural.
Pendidikan hanya mungkin jika mengandaikan kemutlakan rasionalitas dan demokrasi.
Pertama-tama, pendidikan adalah proses belajar bertujuan setiap warga negara bisa masuk dan berinteraksi wajar dalam konteks kultural. Proses ini utamanya difasilitasi lembaga-lembaga pendidikan formal.
Namun, ketika pendidikan diyakini sebagai dialektika tanpa henti, proses 'menjadi' individu tidak berhenti pada keterterimaan secara sosio-kultural.
Proses belajar dan kegiatan-kegiatan kependidikan mesti membuat individu mampu bertransendensi, berkembang melampaui kriteria minimal yang ditetapkan kurikulum.
Pada tahap akhir, sivistys mensyaratkan terbangunnya semacam militansi sosial, yakni ketika berkembangnya kompetensi individu untuk memberi pengaruh kehidupan publik.
Secara bermartabat dan ilmiah, tahap ini mengandaikan kapasitas individu yang sanggup berpartisipasi bagi perkembangan kultural, kesejahteraan publik, dan politik.
Militansi dalam sivistys, bisa disimpulkan, ialah konsekuensi logis dari proses pendidikan, formal maupun sosial.
Militansi adalah produk dari dialektika berbasis akal sehat antara individu dan lingkungan sosial, apa yang dipelajari, dan aktivitas kehidupan.
Jika dibandingkan dengan indoktrinasi, sivistys lebih dekat dengan fakta pendidikan politik yang berkembang di negara maju saat ini.
Militansi sosial dan berdemokrasi tumbuh bukan karena kepatuhan pada doktrin politik.
Sebaliknya, prinsip demokrasi dipahami, diterima, dan dikelola menggunakan rasionalitas karena pendidikan.
Ini juga menjelaskan kenapa hasil indoktrinasi dengan mudah bisa mengalami kedaluwarsa, yakni ketika terjadi disengagement antara individu dengan ideologi totalistik yang diindoktrinasikan.
Militansi tanpa rasionalitas perlu motivasi eksternal terus-menerus, dengan insentif atau tindakan koersif.
Itu mungkin sebabnya, seperti di Finlandia atau negara maju lainnya, para politikus 'terpaksa' secara militan mengumpulkan dana dari masyarakat untuk membiayai kerja-kerja politiknya.
Pendidikan politik yang sehat mengantarkan mereka pada kesadaran bahwa politisi bekerja melayani rakyat dan harus dibiayai rakyat.
Sebagai catatan, ini boleh jadi tidak 'seksi' bagi banyak politisi di RI, apalagi bagi demagog yang berharap kultus-individu dan cara cepat meraih kekuasaan.
Namun, kita tahu, pendidikan yang wajar utamanya bersandar proses, bahwa 'Roma tak dibangun dalam satu hari'.
Media Indonesia
Senin, 4 December 2017 12:30 WIB
Penulis: Khairil Azhar Staf Pengajar Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem
Senin, 04 Desember 2017
Pembelajaran Kolaboratif Era Digital (Ridwan Sanjaya)
PERKEMBANGANteknologi
dengan kecepatan tinggi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia,
termasuk dalam hal pembelajaran. Generasi millenial dan centennial yang
lahir pada saat teknologi sudah berkembang membuat ponsel cerdas,
komputer tablet, dan internet menjadi perangkat biasa yang digunakan
sehari-hari.
Pemahaman tentang teknologi informasi dan komunikasi yang lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya membuat mereka terbiasa mencari jawaban tidak selalu dari orang yang lebih pintar atau lebih dewasa, namun melalui teknologi yang secara cepat dapat memberikan jawaban, seringkali lebih komprehensif.
Hal ini menuntut perubahan teknik pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru atau dosen, menjadi berpusat pada siswa atau mahasiswa.
Meskipun konsep Student-centred learning (SCL) sudah muncul dua dekade yang lalu, penerapannya makin dimudahkan setelah keberadaan teknologi informasi. Dalam SCL, guru atau dosen merupakan dirigen dalam orkestra pencarian pengetahuan. Meskipun tidak mendominasi kelas, para pendidik menguasai gambar besar peta pencarian para siswanya.
Pemanfaatan model pembelajaran kolaboratif akan banyak membantu siswa dalam kecepatan dan kedalaman proses perolehan pengetahuan yang diinginkan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran kolaboratif akan menjadi katalisator dalam tujuan tersebut.
Melalui teknologi, siswa menjadi setara kedudukannya dalam hal kontribusi pengetahuan. Ketika terkoneksi dengan internet, mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi ide, informasi, pengalaman, dan kemampuan.
Kerja Kolaboratif
Pada dasarnya, kolaborasi merupakan keniscayaan dalam pengembangan pembelajaran berbasis digital. Keberadaan internet yang bisa diakses oleh setiap orang, menjadikannya lebih sulit ketika didesain untuk tertutup. Platform-platform pembelajaran digital memungkinkan pengguna-penggunanya berperan secara egaliter.
Platform sederhana untuk pekerjaan kolaborasi seperti Google Drive, Dropbox, dan Microsoft OneDrive sering digunakan untuk menyimpan dan memperbarui dokumen agar bisa diakses oleh anggota tim yang lain.
Platform yang lebih lengkap seperti dalam Google Docs dan Office 360 memungkinkan kolaborasi secara langsung di internet dalam proses perubahan tanpa harus diunduh atau diunggah terlebih dahulu. Layanan awan (cloud services) tersebut menjadikan setiap orang tidak harus memiliki dokumen atau bahkan memiliki komputer untuk bekerja.
Setiap hardware atau perangkat keras yang terhubung ke internet dapat digunakan untuk bekerja di mana pun dan kapan pun penggunanya membutuhkan. Hal ini membuat kerja kolaboratif semakin tidak terbatas. Dalam pembelajaran, platform lain yang umum digunakan adalah Wiki.
Setiap anggota tim dapat berkontribusi melengkapi informasi atau pengetahuan yang sedang dibangun di dalam suatu situs web. Keterbukaan mendorong banyak orang terbuka dan mempunyai keinginan untuk berbagi informasi dan pengetahuan di dalam platform tersebut.
Jika pada awalnya konten Wiki sering tidak akurat, maka seiring dengan meningkatnya peran kontributor dan sukarelawan akan meningkatkan keakuratan informasi yang dibagikan. Sehingga informasi yang dirujuk oleh orang lain dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Pressbooks.com juga dapat menjadi platform dalam pembelajaran kolaboratif.
Perangkat lunak berbasis web yang berfungsi untuk menyusun buku digital ini menggunakan Content Management System (CMS) sebagai platform dasarnya. Penggunaan CMS memungkinkan setiap orang yang terdaftar dapat menjadi bagian dari penulis bersama.
Tidak hanya tulisan untuk bab yang berbeda, tetapi juga tulisan untuk bab yang sama dapat dikerjakan secara bersama-sama. Platform lainnya untuk pengembangan permainan digital secara bersama- sama juga dapat dilakukan melalui perangkat lunak pembuatan game yang terhubung dengan penyimpanan online.
Begitu juga dengan perangkat lunak Learning Management System (LMS) yang dapat diintegrasikan dengan fitur Sharable Content Object Reference Model (SCORM) dalam pembelajaran kolaboratif. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Wenworth (2014) pada beberapa perusahaan, pembelajaran kolaboratif dengan teknologi ternyata dapat meningkatkan fokus antara 73% sampai dengan 83% karyawan.
Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif pada dampak pembelajaran kolaboratif dengan menggunakan teknologi. Pada masa yang akan datang, pembelajaran kolaboratif dengan teknologi akan menjadi aktivitas yang semakin dibutuhkan. Di sisi yang lain, konten yang telah disusun sangat dimungkinkan untuk dapat terkoneksi dengan penerbit buku atau ebook.
Informasi dan pengetahuan yang disusun bahkan bisa bernilai secara komersial dan tersebar secara luas melalui jaringan distribusi penerbit yang telah dibangun. Sehingga hal ini akan menjadikan pembelajaran kolaboratif terkoneksi dengan kesempatan-kesempatan yang baik di ranah publik dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
—Ridwan Sanjaya,guru besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata
02 Desember 2017 | Wacana
Pemahaman tentang teknologi informasi dan komunikasi yang lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya membuat mereka terbiasa mencari jawaban tidak selalu dari orang yang lebih pintar atau lebih dewasa, namun melalui teknologi yang secara cepat dapat memberikan jawaban, seringkali lebih komprehensif.
Hal ini menuntut perubahan teknik pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru atau dosen, menjadi berpusat pada siswa atau mahasiswa.
Meskipun konsep Student-centred learning (SCL) sudah muncul dua dekade yang lalu, penerapannya makin dimudahkan setelah keberadaan teknologi informasi. Dalam SCL, guru atau dosen merupakan dirigen dalam orkestra pencarian pengetahuan. Meskipun tidak mendominasi kelas, para pendidik menguasai gambar besar peta pencarian para siswanya.
Pemanfaatan model pembelajaran kolaboratif akan banyak membantu siswa dalam kecepatan dan kedalaman proses perolehan pengetahuan yang diinginkan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran kolaboratif akan menjadi katalisator dalam tujuan tersebut.
Melalui teknologi, siswa menjadi setara kedudukannya dalam hal kontribusi pengetahuan. Ketika terkoneksi dengan internet, mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi ide, informasi, pengalaman, dan kemampuan.
Kerja Kolaboratif
Pada dasarnya, kolaborasi merupakan keniscayaan dalam pengembangan pembelajaran berbasis digital. Keberadaan internet yang bisa diakses oleh setiap orang, menjadikannya lebih sulit ketika didesain untuk tertutup. Platform-platform pembelajaran digital memungkinkan pengguna-penggunanya berperan secara egaliter.
Platform sederhana untuk pekerjaan kolaborasi seperti Google Drive, Dropbox, dan Microsoft OneDrive sering digunakan untuk menyimpan dan memperbarui dokumen agar bisa diakses oleh anggota tim yang lain.
Platform yang lebih lengkap seperti dalam Google Docs dan Office 360 memungkinkan kolaborasi secara langsung di internet dalam proses perubahan tanpa harus diunduh atau diunggah terlebih dahulu. Layanan awan (cloud services) tersebut menjadikan setiap orang tidak harus memiliki dokumen atau bahkan memiliki komputer untuk bekerja.
Setiap hardware atau perangkat keras yang terhubung ke internet dapat digunakan untuk bekerja di mana pun dan kapan pun penggunanya membutuhkan. Hal ini membuat kerja kolaboratif semakin tidak terbatas. Dalam pembelajaran, platform lain yang umum digunakan adalah Wiki.
Setiap anggota tim dapat berkontribusi melengkapi informasi atau pengetahuan yang sedang dibangun di dalam suatu situs web. Keterbukaan mendorong banyak orang terbuka dan mempunyai keinginan untuk berbagi informasi dan pengetahuan di dalam platform tersebut.
Jika pada awalnya konten Wiki sering tidak akurat, maka seiring dengan meningkatnya peran kontributor dan sukarelawan akan meningkatkan keakuratan informasi yang dibagikan. Sehingga informasi yang dirujuk oleh orang lain dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Pressbooks.com juga dapat menjadi platform dalam pembelajaran kolaboratif.
Perangkat lunak berbasis web yang berfungsi untuk menyusun buku digital ini menggunakan Content Management System (CMS) sebagai platform dasarnya. Penggunaan CMS memungkinkan setiap orang yang terdaftar dapat menjadi bagian dari penulis bersama.
Tidak hanya tulisan untuk bab yang berbeda, tetapi juga tulisan untuk bab yang sama dapat dikerjakan secara bersama-sama. Platform lainnya untuk pengembangan permainan digital secara bersama- sama juga dapat dilakukan melalui perangkat lunak pembuatan game yang terhubung dengan penyimpanan online.
Begitu juga dengan perangkat lunak Learning Management System (LMS) yang dapat diintegrasikan dengan fitur Sharable Content Object Reference Model (SCORM) dalam pembelajaran kolaboratif. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Wenworth (2014) pada beberapa perusahaan, pembelajaran kolaboratif dengan teknologi ternyata dapat meningkatkan fokus antara 73% sampai dengan 83% karyawan.
Hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif pada dampak pembelajaran kolaboratif dengan menggunakan teknologi. Pada masa yang akan datang, pembelajaran kolaboratif dengan teknologi akan menjadi aktivitas yang semakin dibutuhkan. Di sisi yang lain, konten yang telah disusun sangat dimungkinkan untuk dapat terkoneksi dengan penerbit buku atau ebook.
Informasi dan pengetahuan yang disusun bahkan bisa bernilai secara komersial dan tersebar secara luas melalui jaringan distribusi penerbit yang telah dibangun. Sehingga hal ini akan menjadikan pembelajaran kolaboratif terkoneksi dengan kesempatan-kesempatan yang baik di ranah publik dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
—Ridwan Sanjaya,guru besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata
02 Desember 2017 | Wacana
TAJUK RENCANA: Guru dan Generasi Tangguh
Presiden
Joko Widodo Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap peringatan Hari Guru
Nasional (HGN) dan HUT Ke-72 PGRI menjadi momentum berbenah untuk
menyiapkan generasi yang tangguh. Sebab, guru dinilai sangat penting
dalam pembangunan bangsa.
Harapan Presiden yang disampaikan di depan 38.000 guru yang hadir pada peringatan tersebut sangat relevan dengan situasi generasi terkini, yang memunculkan istilah populer "kids zaman now". Generasi milenial sering dikeluhkan sebagai generasi yang kurang tahan banting, mudah bosan, tidak tahan tekanan, dan seterusnya yang mengesankan bahwa generasi saat ini adalah generasi lemah. Keluhan tersebut banyak terungkap dari para pengelola perusahaan yang harus merekrut staf baru yang berasal dari lulusan saat ini. Keluhan tersebut mungkin benar untuk beberapa orang walaupun tidak selalu tepat menggambarkan kondisi keseluruhan generasi secara utuh.
Orang-orang lemah, yang tidak tahan banting, pada dasarnya juga dapat ditemukan di setiap generasi. Namun, pesan Presiden tetap relevan bukan sebagai penegasan atau kekhawatiran bahwa generasi saat ini dan di masa depan tidak tangguh, tetapi bahwa fokus perhatian pendidikan tidak lagi berorientasi pada penjejalan informasi pengetahuan, tetapi lebih pada pembentukan manusia utuh. Yakni, pendidikan yang menguatkan identitas, dan menguatkan karakter. Ketika informasi bisa dengan mudah diperoleh, dan pengetahuan bisa dengan mudah dipelajari, berkat kemajuan pesat teknologi informasi, maka peran lembaga pendidikan dan guru juga harus berubah.
Guru tidak lagi sebagai penyampai informasi tunggal, kecuali kepada murid-murid pada tingkat dasar (elementary). Otoritas ilmu pengetahuan tidak terletak sepenuhnya pada lembaga sekolah. Tidak heran apabila perusahaan Google tidak lagi mensyaratkan ijazah. Jika ada pertanyaan, lebih penting mana, mendahulukan siswa meraih skill dan pengetahuan semaksimal mungkin atau mendahulukan siswa membentuk kepribadian unggul?
Jawabnya sudah jelas, manusia jauh lebih penting. Karena apabila manusia siap, dalam arti secara emosional, kejiwaan, kematangan sosial, dan karakter, maka pengetahuan dan skill apapun dapat diraihnya. Sayangnya, guru di Indonesia terjebak pada tuntutan penguasaan pengetahuan. Menitipkan generasi bangsa kepada guru untuk menjadi generasi tangguh tidak mungkin dilakukan apabila sistem pendidikan di negeri ini tidak dirombak sedemikian rupa.
Siswa kelas III atau IV SD di Indonesia memang lebih pintar Matematika dibandingkan siswa kelas yang setara di Eropa. Namun, pada saat siswa itu menempuh pendidikan tinggi, kebanyakan siswa Eropa lebih unggul. Mengapa? Karena yang satu disiapkan dulu sebagai manusia tangguh dan berpikir kritis.
Suara Merdeka 04 Desember 2017 | Wacana
Harapan Presiden yang disampaikan di depan 38.000 guru yang hadir pada peringatan tersebut sangat relevan dengan situasi generasi terkini, yang memunculkan istilah populer "kids zaman now". Generasi milenial sering dikeluhkan sebagai generasi yang kurang tahan banting, mudah bosan, tidak tahan tekanan, dan seterusnya yang mengesankan bahwa generasi saat ini adalah generasi lemah. Keluhan tersebut banyak terungkap dari para pengelola perusahaan yang harus merekrut staf baru yang berasal dari lulusan saat ini. Keluhan tersebut mungkin benar untuk beberapa orang walaupun tidak selalu tepat menggambarkan kondisi keseluruhan generasi secara utuh.
Orang-orang lemah, yang tidak tahan banting, pada dasarnya juga dapat ditemukan di setiap generasi. Namun, pesan Presiden tetap relevan bukan sebagai penegasan atau kekhawatiran bahwa generasi saat ini dan di masa depan tidak tangguh, tetapi bahwa fokus perhatian pendidikan tidak lagi berorientasi pada penjejalan informasi pengetahuan, tetapi lebih pada pembentukan manusia utuh. Yakni, pendidikan yang menguatkan identitas, dan menguatkan karakter. Ketika informasi bisa dengan mudah diperoleh, dan pengetahuan bisa dengan mudah dipelajari, berkat kemajuan pesat teknologi informasi, maka peran lembaga pendidikan dan guru juga harus berubah.
Guru tidak lagi sebagai penyampai informasi tunggal, kecuali kepada murid-murid pada tingkat dasar (elementary). Otoritas ilmu pengetahuan tidak terletak sepenuhnya pada lembaga sekolah. Tidak heran apabila perusahaan Google tidak lagi mensyaratkan ijazah. Jika ada pertanyaan, lebih penting mana, mendahulukan siswa meraih skill dan pengetahuan semaksimal mungkin atau mendahulukan siswa membentuk kepribadian unggul?
Jawabnya sudah jelas, manusia jauh lebih penting. Karena apabila manusia siap, dalam arti secara emosional, kejiwaan, kematangan sosial, dan karakter, maka pengetahuan dan skill apapun dapat diraihnya. Sayangnya, guru di Indonesia terjebak pada tuntutan penguasaan pengetahuan. Menitipkan generasi bangsa kepada guru untuk menjadi generasi tangguh tidak mungkin dilakukan apabila sistem pendidikan di negeri ini tidak dirombak sedemikian rupa.
Siswa kelas III atau IV SD di Indonesia memang lebih pintar Matematika dibandingkan siswa kelas yang setara di Eropa. Namun, pada saat siswa itu menempuh pendidikan tinggi, kebanyakan siswa Eropa lebih unggul. Mengapa? Karena yang satu disiapkan dulu sebagai manusia tangguh dan berpikir kritis.
Suara Merdeka 04 Desember 2017 | Wacana
Langganan:
Komentar (Atom)
TAJUK RENCANA: Membenahi Sistem Pendidikan Dasar (Kompas)
Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita. ...
-
Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita. ...
-
GENERASI zaman now adalah generasi baru yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia digital. Jika angkatan lama lebih akrab dengan media cet...
-
Siapa pun yang berhasil menguasai AI (kecerdasan buatan) akan menguasai dunia. Vladimir Putin Kita sedang di ambang revolusi. Revolusi bers...



