dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di
masa kanak-kanak
Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan
akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan
banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya, orangtua menginginkan anaknya lekas
besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal
permainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Bodi utamanya terbuat
dari satu belahan simetris kulit jeruk. Lalu, bagian atap diambil dari
belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk
dari bahan yang sama, dibuat dengan perkakas sederhana sehingga
ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara
bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran
kecil. Mobil kulit jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan
dengan tali rafia hingga dapat dihela ke mana suka.
Satu-dua hari kulit jeruk tentu akan layu dan lisut, hingga mobil
berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu,
warnanya juga akan berubah. Tetapi, anak-anak masa lalu masih
menyeretnya ke mana-mana. Bahkan, masih digasak di gelanggang balapan
dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur di jalan
berbatu. Tak usah khawatir sebab persediaan jeruk bali melimpah. Mereka
akan kembali membuat mobil baru untuk kemudian dihancurkan kembali.
Barang langka
Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri,
meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin
terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal,
lalu main bersama hingga tiba waktu senja.
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain meriam bambu. Terbuat dari
dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian
pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak
tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik
api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal meriam.
Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara
satu kampung dan kampung lain. Kadang-kadang meriam bambu juga digunakan
sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah
sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan lima meriam
berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan
jumlah meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang
sesuai aba-aba, di ujung tiap meriam dipasangkan tempurung kelapa
terlebih dulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung
kelapa yang beterbangan.
Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu. Tetapi,
yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator meriam
yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas
tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di
situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka
sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran
terkena jilatan api meriam bambu.
Siapa tak kenal petak umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tak memiliki
permainan ini meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan
populer ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang
setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak sudah bersembunyi
di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas
mencari pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian,
sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang
muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan
anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan,
juga tawa, karena mereka telah tertipu secara berjemaah. Meski begitu,
esoknya mereka bermain lagi.
Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa,
apalagi di kota-kota besar. Suatu kali, pada masa liburan sekolah, saya
mengajak anak- anak saya mudik ke pedalaman Sumatera. Saya hendak
memperkenalkan "adu sijontu" alias adu jangkrik, permainan masa kecil
yang saya gemari.
Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa
ekor sijontu jantan, saya bertanya kepada seorang anak tetangga perihal
di mana sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan
saja karena ia tak bisa menunjukkan sarang sijontu, tetapi juga karena
ia betul-betul tak mengenal makhluk bernama sijontu itu.
Kecanduan gawai
Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan
dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan,
bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS).
Jika penyewaan PS penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar,
bermain game online di telepon pintar. Dalam permainan digital itu,
mereka terhubung oleh koneksi internet, tetapi tak saling berjumpa meski
berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi "Kids Jaman Now" telah
membuat mereka malas bergerak dan tak gandrung bercengkrama di alam
terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health
di Boston Children's Hospital, mengungkapkan, pada 2013 sedikitnya 70
persen anak usia delapan tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat
gawai, sepertismartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya
masih di angka 38 persen.
Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan, lebih
dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam
sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama
mencatat, satu dari tiga anak bahkan mulai menggunakansmartphone ketika
berumur 3 tahun. Laporan ini menunjukkan jutaan anak telah mengalami
kecanduan gawai.
Apabila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat
mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat
jaringan Wi-Fi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan,
gelisah tiada tentu arah sebab kebiasaan bermain di dunia virtual adalah
nyawa kedua mereka. Lalu, di mana gundu, congklak, lompat tali, gobak
sodor, pletokan, engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara
yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya?
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi
hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tetapi proses kreatif
saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya,
kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai
apabila permainan itu digelar di dunia nyata tiada bakal tergantikan
oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam
kebersamaan, generasi "Kids Jaman Now" justru karam di liang-liang
keterasingan.…
Jangan bergegas menuju
dewasa. Tak perlu tergesa menuju tua. Sebab, puncak kegembiraan ada di
masa kanak-kanak
Demikian pesan seorang ayah kepada anaknya dalam sebuah obrolan ringan
akhir pekan. Sekilas terdengar ganjil dan barangkali dapat menimbulkan
banyak pertanyaan. Sebab, lazimnya, orangtua menginginkan anaknya lekas
besar, segera matang, hingga secepatnya pula menggapai cita-cita.
Jauh sebelum game online merajalela, anak-anak masa silam hanya mengenal
permainan mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Bodi utamanya terbuat
dari satu belahan simetris kulit jeruk. Lalu, bagian atap diambil dari
belahan simetris yang lain dalam ukuran lebih kecil. Empat roda dibentuk
dari bahan yang sama, dibuat dengan perkakas sederhana sehingga
ukurannya sulit untuk dibikin persis sama. Rangka penghubung antara
bodi, atap, dan empat roda hanya memerlukan beberapa bilah bambu ukuran
kecil. Mobil kulit jeruk segera meluncur di jalan setelah dihubungkan
dengan tali rafia hingga dapat dihela ke mana suka.
Satu-dua hari kulit jeruk tentu akan layu dan lisut, hingga mobil
berjalan egol-egol lantaran putaran rodanya tak imbang lagi. Selain itu,
warnanya juga akan berubah. Tetapi, anak-anak masa lalu masih
menyeretnya ke mana-mana. Bahkan, masih digasak di gelanggang balapan
dengan anak-anak lain hingga akhirnya semua mobil itu hancur di jalan
berbatu. Tak usah khawatir sebab persediaan jeruk bali melimpah. Mereka
akan kembali membuat mobil baru untuk kemudian dihancurkan kembali.
Barang langka
Di sanalah kegembiraan tumbuh. Membuat mainan dengan tangan sendiri,
meminjam pisau dari dapur ibu, saling meledek karena hasilnya mungkin
terlalu jauh dari bentuk mobil sebenarnya, tertawa terpingkal-pingkal,
lalu main bersama hingga tiba waktu senja.
Anak-anak masa silam juga terbiasa bermain meriam bambu. Terbuat dari
dua ruas bambu tua yang mereka tebang dari rumpun aur sendiri. Bagian
pangkal ruas pertama dilubangi sebagai pintu untuk memasukkan minyak
tanah dan kain bekas. Perlu sebilah bambu ukuran kecil sebagai pemantik
api yang akan disulutkan ke lubang di pangkal meriam.
Setelah itu, terdengarlah suara dentuman yang saling berbalas di antara
satu kampung dan kampung lain. Kadang-kadang meriam bambu juga digunakan
sebagai senjata dalam perang-perangan. Biasanya dilakukan di tengah
sawah selepas panen. Satu kelompok anak-anak dengan lima meriam
berposisi saling berhadap-hadapan dengan kelompok anak-anak lain dengan
jumlah meriam yang sama, dalam jarak 150 meter. Sebelum saling menyerang
sesuai aba-aba, di ujung tiap meriam dipasangkan tempurung kelapa
terlebih dulu. Dentuman yang bertubi-tubi makin semarak oleh tempurung
kelapa yang beterbangan.
Tak ada ukuran baku guna menentukan pemenang dari perang itu. Tetapi,
yang menarik dari permainan itu adalah bulu mata para operator meriam
yang gundul akibat lidah api yang menyembul di lubang penyulut. Panas
tinggi dari ruas bambu mengakibatkan cipratan api. Sekali lagi, di
situlah keriangan menyala. Kedua pasukan terbahak-bahak melihat muka
sahabat-sahabatnya belepotan arang dan bulu mata yang gundul lantaran
terkena jilatan api meriam bambu.
Siapa tak kenal petak umpet? Tak ada wilayah Indonesia yang tak memiliki
permainan ini meski nama dan cara bermainnya berbeda-beda. Permainan
populer ini telah menyisakan banyak kegembiraan yang mustahil diulang
setelah kita beranjak dewasa. Manakala sekelompok anak sudah bersembunyi
di ceruk-ceruk yang paling sukar ditemukan, ternyata anak yang bertugas
mencari pulang diam-diam. Berjam-jam mereka meringkuk di persembunyian,
sementara si pencari tak kunjung tiba. Ketika hari beranjak sore, yang
muncul di lokasi justru teriakan seorang ibu yang merasa kehilangan
anaknya. Begitu mereka keluar dari persembunyian, meledaklah kekecewaan,
juga tawa, karena mereka telah tertipu secara berjemaah. Meski begitu,
esoknya mereka bermain lagi.
Kini, keriangan demi keriangan itu adalah barang langka, baik di desa,
apalagi di kota-kota besar. Suatu kali, pada masa liburan sekolah, saya
mengajak anak- anak saya mudik ke pedalaman Sumatera. Saya hendak
memperkenalkan "adu sijontu" alias adu jangkrik, permainan masa kecil
yang saya gemari.
Sebelum kami bertolak ke areal bekas kebun cabai guna mencari beberapa
ekor sijontu jantan, saya bertanya kepada seorang anak tetangga perihal
di mana sijontu jantan mudah diperoleh. Ia menggeleng tanpa beban. Bukan
saja karena ia tak bisa menunjukkan sarang sijontu, tetapi juga karena
ia betul-betul tak mengenal makhluk bernama sijontu itu.
Kecanduan gawai
Telapak kaki anak-anak kampung masa kini ternyata tidak lagi bersentuhan
dengan pematang sawah. Sepulang sekolah, mereka duduk berdesak-desakan,
bermain game elektronik di tempat-tempat penyewaan PlayStation (PS).
Jika penyewaan PS penuh, mereka akan terpaku berjam-jam di kamar,
bermain game online di telepon pintar. Dalam permainan digital itu,
mereka terhubung oleh koneksi internet, tetapi tak saling berjumpa meski
berada di kampung yang sama.
Kecanduan gawai yang sedang menjangkiti generasi "Kids Jaman Now" telah
membuat mereka malas bergerak dan tak gandrung bercengkrama di alam
terbuka. Michael Rich (2015), peneliti Center on Media and Child Health
di Boston Children's Hospital, mengungkapkan, pada 2013 sedikitnya 70
persen anak usia delapan tahun ke bawah sudah menggunakan perangkat
gawai, sepertismartphone, tablet, dan iPod. Padahal, pada 2011 datanya
masih di angka 38 persen.
Hasil riset yang dilansir www.uswitch.com (2014) juga melaporkan, lebih
dari seperempat anak-anak di seluruh dunia memiliki komputer genggam
sebelum usia mereka genap 8 tahun. Hasil survei dari lembaga yang sama
mencatat, satu dari tiga anak bahkan mulai menggunakansmartphone ketika
berumur 3 tahun. Laporan ini menunjukkan jutaan anak telah mengalami
kecanduan gawai.
Apabila Tuan dan Puan meragukan kabar ini, periksalah tingkah anak saat
mereka ketinggalan gawai dalam sebuah perjalanan piknik, atau saat
jaringan Wi-Fi di rumah sedang bermasalah. Mereka akan uring-uringan,
gelisah tiada tentu arah sebab kebiasaan bermain di dunia virtual adalah
nyawa kedua mereka. Lalu, di mana gundu, congklak, lompat tali, gobak
sodor, pletokan, engklek, dan rupa-rupa permainan anak-anak Nusantara
yang hingga kini belum terhitung jumlah pastinya?
Boleh jadi beberapa jenis permainan itu telah mengalami digitalisasi
hingga dapat dimainkan melalui aplikasi digital, tetapi proses kreatif
saat memproduksinya, persentuhan fisik dengan kawan-kawan sebaya,
kekompakan dalam permainan kolektif, dan keriangan yang dapat digapai
apabila permainan itu digelar di dunia nyata tiada bakal tergantikan
oleh histeria dunia maya. Alih-alih dapat meraih keriangan dalam
kebersamaan, generasi "Kids Jaman Now" justru karam di liang-liang
keterasingan.…
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar