Senin, 04 Desember 2017

TAJUK RENCANA: Guru dan Generasi Tangguh

Presiden Joko Widodo Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT Ke-72 PGRI menjadi momentum berbenah untuk menyiapkan generasi yang tangguh. Sebab, guru dinilai sangat penting dalam pembangunan bangsa.

Harapan Presiden yang disampaikan di depan 38.000 guru yang hadir pada peringatan tersebut sangat relevan dengan situasi generasi terkini, yang memunculkan istilah populer "kids zaman now". Generasi milenial sering dikeluhkan sebagai generasi yang kurang tahan banting, mudah bosan, tidak tahan tekanan, dan seterusnya yang mengesankan bahwa generasi saat ini adalah generasi lemah. Keluhan tersebut banyak terungkap dari para pengelola perusahaan yang harus merekrut staf baru yang berasal dari lulusan saat ini. Keluhan tersebut mungkin benar untuk beberapa orang walaupun tidak selalu tepat menggambarkan kondisi keseluruhan generasi secara utuh.

Orang-orang lemah, yang tidak tahan banting, pada dasarnya juga dapat ditemukan di setiap generasi. Namun, pesan Presiden tetap relevan bukan sebagai penegasan atau kekhawatiran bahwa generasi saat ini dan di masa depan tidak tangguh, tetapi bahwa fokus perhatian pendidikan tidak lagi berorientasi pada penjejalan informasi pengetahuan, tetapi lebih pada pembentukan manusia utuh. Yakni, pendidikan yang menguatkan identitas, dan menguatkan karakter. Ketika informasi bisa dengan mudah diperoleh, dan pengetahuan bisa dengan mudah dipelajari, berkat kemajuan pesat teknologi informasi, maka peran lembaga pendidikan dan guru juga harus berubah.

Guru tidak lagi sebagai penyampai informasi tunggal, kecuali kepada murid-murid pada tingkat dasar (elementary). Otoritas ilmu pengetahuan tidak terletak sepenuhnya pada lembaga sekolah. Tidak heran apabila perusahaan Google tidak lagi mensyaratkan ijazah. Jika ada pertanyaan, lebih penting mana, mendahulukan siswa meraih skill dan pengetahuan semaksimal mungkin atau mendahulukan siswa membentuk kepribadian unggul?

Jawabnya sudah jelas, manusia jauh lebih penting. Karena apabila manusia siap, dalam arti secara emosional, kejiwaan, kematangan sosial, dan karakter, maka pengetahuan dan skill apapun dapat diraihnya. Sayangnya, guru di Indonesia terjebak pada tuntutan penguasaan pengetahuan. Menitipkan generasi bangsa kepada guru untuk menjadi generasi tangguh tidak mungkin dilakukan apabila sistem pendidikan di negeri ini tidak dirombak sedemikian rupa.

Siswa kelas III atau IV SD di Indonesia memang lebih pintar Matematika dibandingkan siswa kelas yang setara di Eropa. Namun, pada saat siswa itu menempuh pendidikan tinggi, kebanyakan siswa Eropa lebih unggul. Mengapa? Karena yang satu disiapkan dulu sebagai manusia tangguh dan berpikir kritis.

Suara Merdeka 04 Desember 2017 | Wacana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAJUK RENCANA: Membenahi Sistem Pendidikan Dasar (Kompas)

Rendahnya kemampuan dasar siswa membuat kita prihatin. Harus segera dilakukan langkah konkret untuk membenahi sistem pendidikan dasar kita. ...